In Slice of Life

(ber)Awal Kampret

“Awal kampreeett!!!” Umpatan seperti itu yang dikeluarkan dari Fitri, seorang teman perempuan saya, saat pertama kali bertemu setelah tamat SMA lebih dari dua tahun lalu.

Saya hanya bisa terkekeh sebab merasa berhasil mengerjainya. Sebelumnya, saya meminta untuk bertemu di depan pintu masuk salah satu mal di Makassar. Ia lebih dahulu tiba di lahan parkir, tetapi saya rupanya lebih cepat menjejak kaki di depan pintu masuk. Melihatnya datang dengan tingkah kebingungan menggelitik pikiran saya untuk menjahili. Pilar tembok yang cukup besar menjadi target persembunyian diri. Kemudian menguntit langkahnya dari belakang seolah-olah tidak mengenal. Ia mencoba menghubungi lewat telepon yang barang tentu tak saya hiraukan.

Sejurus, ia lalu refleks berotasi hingga tiga ratus enam puluh derajat. Mission accomplished! Menemukan saya yang berpura-pura tidak tahu soal kedatangannya, ia memukul-mukul pelan bahu saya dengan umpatan “kampret”. Umpatan yang sungguh begitu lumrah bagi kami untuk tak perlu merasa risih.

Kami berdua, dan beberapa teman kelas lain memang berencana untuk bertemu sekadar reuni kecil. Siapa-siapa yang bisa meluangkan waktu saja. Kalau menunggu semuanya bersedia, sama seperti menunggu koruptor taubat. Hampir-hampir tak mungkin, ya bukan sungguh tak mungkin, sebab saya percaya memang tak ada yang tak mungkin, asal diri dan semesta berkooperasi mewujudkan. 
Pun, waktu itu sudah lewat sejam dari waktu perjanjian, sedang baru kami berdua yang tiba. Tak ada guna merutuki teman-teman, kami sudah sama-sama tahu, ada banyak hal yang tak sesuai perkiraan dan rencana. Ada-ada saja alasannya: jalanan macet, supir pete-pete kelamaan ngetem, masih ada kuliah, dan alasan yang butuh pemakluman lain.

Kami berdua, saya dan Fitri, lantas masuk ke dalam satu kedai roti demi mencoba membebaskan kejengahan dan kekesalan sebab janji yang tak tepat. Bau roti yang baru dipanggang memang aroma yang boleh jadi alternatif terapis. Sembari menyeruput dua minuman berbeda, ia dengan iced cappuccino, saya dengan green tea. Akhir-akhir ini, saya memang cenderung menghindari kopi karena suatu sebab. Bau teh hijau juga tak kalah sedap, dan kalau urusan kesehatan, tak usah ditanyakan.

Beberapa menit kemudian, beberapa teman lain pun berdatangan satu per satu. Nita, Ela, Riska, Nurul, Putri, Erfika, dan Virgy. Nama yang terakhir menjadi penyelemat saya supaya tidak menjadi yang paling “cantik” di antara mereka. Teman laki-laki di kelas lebih banyak merantau di luar daerah. Beruntung, ketika pulang kampung kemarin, ada yang menyempatkan datang ke rumah. Tentang Virgy, sebenarnya tidak sekelas dengan kami, ia dari program jurusan sosial. Erfika, pacarnya yang mengajak ia untuk turut serta. Apapun itu, saya benar-benar berterima kasih karena ia ikut datang. Lagi pula, sebenarnya Virgy sudah jadi bagian dari hari-hari kelas dulu. Hampir tiap waktu istrahat, ia selalu datang untuk menemui kekasihnya di kelas. Saya sungguh cemburu, dengan kelanggengan kisah kasih mereka yang bertahun demi tahun masih bertahan.

Reuni semacam ini, memang jarang sekali terjadi. Sesekali saya hanya bertemu dengan satu dua di antara mereka. Atau hanya sekadar pertemuan tak terencana di warung sate. Beberapa kali, acara buka puasa bersama dan ziarah setelah lebaran, saya juga selalu absen. Karenanya, menunggu kesempatan seperti ini sejak dua tahun menjadi penantian yang hebat. Rindu, semakin lama ditabung, semakin banyak yang bisa terbayar.

Kesempatan seperti ini tidak selalu datang. Perlu pembikai kenang, sebab dalam hidup, waktu tak pernah sekalipun memiliki tombol pause. Tak ada kebebasan semau gue untuk me-rewind atau fast forward. Foto, memang pantas jadi alat untuk selalu mengingat kenangan. Waktu tak bisa dibekukan, tetapi kenangan bisa. Makanya, selain demi alasan kekinian, selfie hampir-hampir mengalahkan lama intensitas obrolan menggosipkan kenangan. Menulis ini pun sebetulnya untuk membingkai kenangan.

But first, let me take a selfie

Perihal menggosipkan kenangan, saya justru lebih senang menghidarinya. Ada beberapa waktu, kisah-kisah di sekolah malah menjadi menyulitkan untuk direka ulang. Menghindari dengan lincah, ketimbang mengobrolkan kenangan sekolah, saya lebih penasaran dengan kabar semua teman sekarang. Yang kuliah kependidikan, keperawatan, kemanajemenan, keilmuan, kenegaraan. Yang sudah menikah dan sekarang sedang menimang buah hati pertamanya. Yang merantau mengarungi laut-laut. Yang hampir seharian waktunya dilakukan dengan menyaksikan orang yang datang dan pergi di bandara. Yang tidak berkabar. Ada banyak hal berubah, termasuk ketika semua teman berkomentar senada, saya lebih gemuk sekarang.

Empat jam menjadi waktu yang tak pernah cukup dan sungguh tak setimpal untuk benar-benar melunaskan rindu yang ditahan dua tahun lamanya. Setelah bersama-sama memborong donat beraneka rupa, ke sana kemari mencari tempat makan, hingga hanya makan di suatu tea house, lalu berakhir di supermart membeli persediaan facial, dan teh hijau dan earl grey. Masih banyak hal yang harus dikerjakan bersama, seperti menuntaskan ide arisan traktiran. Jadi, semacam ada rentang waktu untuk bertemu. Pertemuaan itu, yang nantinya akan “dikocok” giliran siapa yang memfasilitasi, termasuk tempat, waktu pasti, sampai makanan, atau tontonan, atau apapun. 

Kita memang tak bisa membeli kebahagiaan, tetapi kita boleh membeli hal-hal baik dengan teman-teman. Itu adalah semacam kebahagian And that's kind of the same thing


“Sudah lama sekali tidak bisa kumpul begini, ya?” seorang teman bertanya, retoris.

“Sebenarnya, yang bikin kita susah kumpul adalah terlalu sering sok sibuk,” seorang teman menanggapi, analitis.

“Saya iri dengan teman di kelas sebelah, hampir tiap bulan update foto saat reuniannya,” teman lain mendengus, miris.

“Sebenarnya saya ketawa pas ditanya mau ngumpul begini. Sudah terlalu sering berencana, tetapi tidak pernah kesampaian,” saya mengaku, ini jujur sekali.

(Foto: Virgi)

Apapun itu, kami memang tak pernah harus selalu sama. Bukankah perbedaan yang akan selalu menyatukan?

Bila sedari awal sudah sama, dari mana kita belajar menghargai, mengasihi? Lagipula, bila tak ada jarak, masihkah rindu tetap terdefinisi, sebab segalanya masih mampu diindrai? Hingga saatnya nanti, kembali akan selalu ada waktu, bila memang masih peduli. Akan selalu ada waktu.



dari teman ta(k)lekang

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar