In Imaginary Talk

"How's Life, Us?"

Tulisan ini saya buat atas permintaan dari seorang adik angkatan sekaligus teman kuliah di beberapa kelas yang sempat tertinggal.  Sebenarnya sudah sejak lama, ia selalu mengakui kerinduannya untuk mengetahui kabar perempuan itu. Siapa lagi namanya, imajiner, ya? Kemarin ia mengulang kembali untuk kesekian kali perihal keingintahuannya. Memang, tak banyak jejak aksara yang digoreskan di tempat pulang ini berkaitan dengan “bilangan khayal” itu. Saya punya alasan kuat mengapa menunda hingga sekarang tiba masanya.

Tetapi selain di sini, beberapa rahasia kecil-kecilan banyak bertebaran di mana-mana; buku catatan harian, jurnal kuliah, dan di beberapa media sosial. Sebenarnya ini tak lagi menjadi rahasia, beberapa teman sering kali dengan sengaja mencuri pandang catatan-catatan itu, dan di media sosial tak ada kata privasi.

Suatu waktu, dulu, saya bahkan pernah berpikiran untuk menulis catatan dengan satu atau dua paragraf tentang imajiner perharinya, lalu dikumpulkan dalam satu kaleng. Saya membayangkan setahun atau dua tahun kemudian, kaleng itu dipenuhi dengan kertas beaneka rupa warna. Kemudian tiba saatnya, saya membuka sendiri kaleng itu untuk mengingat kembali segala yang terjadi selama itu.

Saya mengandai-andai sedang melihat imaji bergerak, bergambar potret diri saya tersenyum, lalu tertawa terbahak, tetapi selanjutnya menekuk bibir, dan beragam ungkapan perasaan lain. Sayang, tulisan-tulisan itu pun terhenti tak lebih dari seminggu. Beberapa manusia hanya mampu merencanakan dan perencanaannya tak sejalan dengan harapan. Barangkali, saya termasuk di dalamnya.

Kalau mau berbalik ke belakang untuk menghitung-hitung, ini sudah melewati bulan kelima belas. Sudah sedikit lebih dari setahun, dan terlalu relatif untuk mengukur lamanya. Ini cukup lama setidaknya kalau mau dibandingkan dengan perempuan Valentine, W. Tapi ini takkan jadi apa-apa kalau harus disandingkan dengan Limit – yang bertahan hingga sekira tiga tahun lamanya. Tak peduli kasus ketiganya berbeda, dikatakan atau tidak dikatakan, tetap saja itu cinta. Lagipula, tidak peduli pula mana yang lebih lama, tetapi dengan siapa sekarang.

Saya selalu teringat dengan film itu, walaupun hanya sekali menontonnya dan sudah bertahun-tahun yang lalu. Katanya, menilai film mana yang bagus tak perlu berpatokan ulasan dari kritikus film terkenal. Sebab, perspektif orang tentu berbeda-beda. Saya mafhum. Film yang bagus setidaknya adalah film yang berkesan, yang masih dihapal alur ceritanya bahkan untuk waktu yang lama sekali, film yang dimiliki gulungan rolnya dalam benak sendiri. A Little Thing Called Love, salah satu dari beberapa.

Dari film itu, saya belajar banyak. Termasuk bagaimana kekuatan perasaan suka adalah sumber energi yang dirancang sedemikian rupa sedemikian sehingga memancarkan hal-hal positif. Terima permintaan maaf saya – kalau ini keliru, bahwa jika menerima selain energi positif yang diproduksi, segalanya hanya obsesi belaka.

Ini pula yang sedapat mungkin saya berusaha lakukan ketika sedang menyukai. Ini mengingatkan dengan Limit – meski sekarang saya tak begitu tahu lagi kabarnya. Yang terjadi adalah, sebenar-benarnya “Nam” dan “Shone” dalam versi yang berkebalikan. Begitupun dengan perempuan Valentine, W – saya banyak membuka hal-hal baik baru ketika bersamanya. 

Seperti itu pula, sejak setahun yang lalu bersama perempuan itu, siapa lagi namanya, imajiner, ya? Saya mengulang hal-hal baik untuk menyikapinya. Memperbaiki penampilan, membaca lebih banyak buku, mendengar musik penyemangat, melakukan kegiatan kreatif, menggali potensi interpersonal, lebih terbuka pada dunia luar. Melakukan semuanya, tak lantas kemudian membuat ini bukan berarti cinta tak berjalan lagi sebagaimana mestinya, cinta yang apa adanya. Hanya saja, bukannkah kita patut selalu berusaha memperbaiki diri, lantas membuat diri pantas dengan orang yang pantas? Sesederhana itu saja.

Jadi, untuk adik angkatan yang bertanya-tanya, tentang perempuan itu, siapa lagi namanya, imajiner, ya? Banyak sekali hal baik yang terjadi selama ini. Ini boleh jadi kabar gembira. Kami bersepakat untuk berdamai dengan perasaan masing-masing. Sulit menjelaskan lebih detil, kami berusaha tak lagi mengungkit-ungkit pertemuan waktu itu. Meskipun sampai sekarang, kode-kode itu masih tetap ada, tak berkurang dan tak bertambah satu pun. Atau, selama ini, kami hanya sama takutnya mengambil resiko besar yang akan ditimbulkan? Bertanya-tanya seperti ini tak akan mengubah apapun. Seperti kata seorang teman, semuanya akan tetap sama saja kalau kita terus mengira-ngira.

“Karena di antara laki-laki dan perempuan yang belum merasa cukup dewasa untuk saling menyayangi, status hubungan tidak begitu perlu dibicarakan untuk menjadi masalah. Cukup saling mengetahui, dan berkomitmen untuk menjaga perasaan, saling percaya, tanpa hal macam-macam lebih banyak.”

Saya masih mengimani janji tersebut, setidaknya. Barangkali, kami memang hanya kembali mencoba memperjuangkan segalanya dengan diam. Saling mengamati dalam diam. Bersuara dalam hening. Saya memang belum mampu mengikat perempuan itu, siapa lagi namanya, imajiner, ya?. Tak pernah ada kata, “tolong tunggu saya” atau “jangan berpaling pada lelaki lain”. Maksud saya, perjalanan hidup masih panjang, dan tak ada yang menjamin masa depan. Jadi untuk sekarang, saya belum bisa menjanjikan apa pun. Bukan bermaksud nyinyir dan menyindir beberapa teman laki-laki lain yang meminta perempuannya untuk menunggu. Saya mengaku saja, saya berbeda. Saya hanya merasa bukan tipikal laki-laki yang bisa dengan mudah menepati janji, barangkali. Tentu, janji pada diri sendiri untuk menulis catatan imajiner perhari itu, salah satu contoh kecilnya.
Tetapi, jangan salah paham. Dalam lima belas bulan ini, “you’ve been also the one, still”. Skandal dengan perempuan lain hanya sebatas wacana dan pengalihan isu. Seharusnya ia tak butuh lagi meragu perkara ini. Saya tak pernah bersungguh-sungguh, untuk urusan ini, saya tak sedang bermain-main. 

Sumber

I don’t know why it must be you to be the one in my heart” – Crazy Little Thing Called Love

Lebih dari segalanya, kami memang sedikit lebih membuka diri. Akhir-akhir ini, kami juga beberapa kali melakukan pertemuan singkat. Namanya kencan kilat, kalau saya boleh melabelinya. Dalam waktu selama ini, hubungan kami tak melulu selalu bahagia. Sebab saya mengimani cinta bukan hanya terbatas pada jatuh hati, melainkan pula patah hati sekali pun. Jika dengan orang yang tepat, keduanya sama-sama cinta.

Jadi, untuk pertanyaan repetisi dari adik angkatan dan teman sekaligus teman kuliah di beberapa kelas yang sempat tertinggal, bagaimana saya harus menjawabnya?

“Kami baik-baik saja.”

Jangan terlalu percaya pula. Premis itu belum tentu benar truth value-nya. Dalam “kami”, ada “saya” dan “dia”. Konjungsi. Dalam konjungsi, kalimatnya dapat dikatakan benar bila premis 1 dan premis 2 sama-sama bernilai benar. Untuk percaya sepenuhnya, “dia” juga harus mengatakan kalimat bernada sama. Kalau pun saya diminta mereka-reka, saya sepenuhnya yakin akan mendengar jawaban yang sama.

Terakhir, untuk adik angkatan dan teman sekaligus teman kuliah di beberapa kelas yang sempat tertinggal, saya hanya hendak berpesan satu hal. Tak semua hal perlu untuk kita boleh ketahui. Saya tak menyalahkan untuk bertanya, saya justru bersyukur karena masih selalu diingatkan tentang perempuan itu, siapa lagi namanya, imajiner, ya? Bertanya memang tak membuat kita mati. Tapi, saya serius, terlalu banyak tahu terkadang pula tak terlalu baik. Yang namanya berlebihan tak pernah baik, mubazir. Kalau belum merasakan sampai sekarang, nanti kau akan merasakan. You never really know if you never felt.

P.s: Tulisan ini panjang sekali, ya? Anggap saja sebagai balasan karena lama tak menulis panjang. Apalagi, balasan karena sudah lama sekali tak lagi menuliskan perempuan itu, siapa lagi namanya, imajiner, ya? Kalau dimintai alasan kenapa mulai jarang menulis di blog, salah satunya barangkali karena sempat tak berdaya setelah terserang bakteri patogen.  Dan kita harus sepakat, menulis adalah perkara terbiasa dan membiasakan diri. Oh, soal bakteri jahat itu, di lain waktu, barangkali akan saya ceritakan.


Related Articles

4 komentar:

  1. Terima kasih untuk menjawab beberapa pertanyaanku kak
    (Sebenarnya bercandaja di kelas, sukaja memang pakaballissi orang, kepoiki :DV)
    Jujur saya punya perspektif yang menarik tentang penulis blog, tentang pecinta diam-diam, dan saya selalu menunggu kelanjutan kisahnya. Saya selalu menganggap setiap postingan blog itu sebagai lanjutan cerita. Di suatu kelas kan saya mengatakan sendiri "Suatu saat kak Awal harus tulis novel dan akan jadika pembaca pertamanya".
    Tentang pesan terakhirnya :D haha
    Saya mengakui tidak bisa mengontrol keingintahuan saya yang besar. Itu salah satu masalah saya kak. Betulki, terlalu banyak tahu memang tak terlalu baik. Saya rasami sekarang, ini mungkin karma :( "Sesuatu yang berlebihan itu juga tidak baik" Nah itu yang temanmu juga pernah katakan kak. Mungkin nanti insyafma :D
    (Tungguimi kak, kukepoiki lagi supaya tulis banyak-banyakki :D peace )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha harus semisterius ini ya, sampai pakai akun anonim segala walaupun punya akun google? :D

      Terima kasih, dik. Saya selalu menjadikannya sebagai doa, dan doa orang yang "tersakiti" lebih mudah dikabulkan.

      Tentang teman saya itu, tak mau terlalu menanggapi. Maksud saya, hanya kalian berdua yang paling bisa menyelesaikan masalah itu. Bukan apa-apa, saya tidak tahu masalahnya, kecuali salah satu dari kalian bercerita. :p

      Hapus
  2. Haha :D biarlah kak. Seolah-olah misterius :) anonim gitu
    "tersakiti" lalo kak~
    Nantilah diceritakan kak kalau ada waktu :D haha

    BalasHapus
  3. Siapa lagi namanya, imajiner, ya? :D

    BalasHapus