In Imaginary Talk Neptune Says

A Little Imaginary Talk Between Kugy and Neptune

Nus, saya sudah pulang!

Kupikir semuanya sudah terlambat, maaf karena telah meninggalkanmu!

Semestinya saya yang bilang demikian, maaf tidak bisa ada di saat kau membutuhkan.

Kurasa kita tidak perlu lagi berkutat pada soal maaf-memaafkan, Gy. Terkadang nyinyir terhadap 
diri sendiri, mencibir diri sendiri, mensinisi kehidupan sendiri menjadi hal yang baik. Supaya kita bisa lebih tahu diri.

Lalu bagaimana kabarmu sekarang?

Kupikir sekarang baik sekali.

Alhamdulillah. Saya kaget menerima perahu kertasmu. Kau mengambil peran saya.

Kurasa saat itu tak ada cara lain untuk menyampaikan pesan.

Oh iya, kau belum punya hp. Lain kali saya akan membelikanmu.

Kupikir tidak perlu. Perahu kertas jauh lebih berguna.

Nus, ini sudah abad ke-21, dan kau harus mengikuti zaman tanpa alasan!

Kurasa ponsel lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya. Lagipula dengan perahu kertas, aku jadi bisa lebih mengingat kodratiku. Kau tahu, aku ini penguasa lautan. Aku lebih mampu mengendalikan apa yang di air dari siapapun.

Termasuk Tuhan?

Kupikir, kecuali Dia. Kau bercanda? Saya masih beriman, sama sepertimu.

Kau shalat lima waktu juga?

Kurasa aku pernah menceritakan ini padamu. Eh belum, ya? Aku sebenarnya tidak sekafir itu, tetapi tidak terlalu alim juga. Masih proses menuju ketaatan dan takwa yang hakiki.

Setelah masalahmu ini, kau pasti jadi lebih banyak menyebut nama Tuhan, kan!

Kupikir begitu. Tak ada yang lebih memahami makhluk selain Penciptanya, jadi semua kuceritakan pada-Nya: Maha Mengerti, Maha Membolak-balikkan Perasaan.

Itu manusiawi, dan saya jadi tahu sekarang, rupanya itu juga dewawi.

Hahaha... Tunggu, kurasa dulu aku pernah bercerita soal penghargaan Academy Awards pada 
kategori pemain drama terbaik.

Iya, saya masih ingat. Katamu, hakim Piala Oscar akan kesulitan untuk menentukan pemenang di antara kalian. Kau dan (mantan) kekasihmu.

Kupikir tidak lagi sekarang.

Mengapa?

Kurasa aku lebih baik mengalah. Hakim boleh memilih mantan kekasihku sajalah.

Hmm... lantas kau sudah pernah bertemu kembali dengannya. Sesuai pintamu, di kedai kopi dalam mimpi?

Kupikir kami bertemu, maaf tapi ini samar-samar. Kalau kau mau tahu, sesaat sebelum semua jadi berakhir berantakan, aku membaca beberapa cerita pendek. Salah satu membahasakan, samar hanyalah kata lain dari pengingkaran diri.

Kau ini, betul-betul...

Kurasa kita juga pernah menyulam percakapan soal lagu favorit dari “Secondhand Serenade.

Tentu saja, itu sudah lama sekali, tapi saya tidak bisa lupa. John Vesely masih yang terbaik dengan “Vulnerable”. Kau suka “Stay Close, Don’t Go”, kan?

Kupikir tidak lagi juga. Lagu yang itu bahkan untuk mengenang mantan kekasihku yang lain. Dalam perjalanan pulang dan kembali ini, aku lebih gemar mendengar “Goodbye”. Sesekali, terdengar pula “Last Time”, “The Last Song Ever”.

Nus, Kau tidak juga mendengar “Your Call”? Atau “It’s Not Over”, atau “Fall for You”?

Kurasa, aku hampir tidak lagi mendengarkannya.

Setahun dengan mantan kekasihmu, jadi kau menganggapnya suatu kesia-siaan?

Kupikir, aku salah sebelumnya. Aku lupa pernah membaca buku Paulo Coelho, aku lupa judulnya apa. Ditulisnya, tidak pernah ada yang sia-sia di dunia ini.

Maksudmu?

Kurasa, itu sudah benar. Bahkan jam dinding yang baterainya sudah mati sekalipun, masih bisa berfungsi sebagai penunjuk waktu yang benar dua kali dalam sehari. Jadi benar, kan, tak ada yang sia-sia di dunia ini?

***

Sumber
Neptunus akhirnya paham. Patah hati itu biasa saja. Tanpa perlu membanting pintu kamar lalu mengunci rapat. Tanpa perlu melempar bantal-bantal sampai kapuknya berhamburan keluar. Tanpa perlu menghabiskan berlembar-lembar tisu menjadi sampah. Tanpa perlu memaki kekasihnya – yang sudah jadi mantan itu yang gemar membual janji. Tanpa perlu menyalahkan siapa-siapa. Lagi pula, akan jadi lucu sekali, jikalau dewa sampai menangis. Nonsens.

Pun, kalau kau amati, di antara memakai kata “kupikir”dan “kurasa”, Neptunus juga jadi lebih proporsional. Seri. Sembilan sama. Fifty-fifty. Berhubungan dengan manusia daratan selama lebih dari setahun membuatnya belajar satu hal lagi, cinta adalah soal kesepahaman antara logika dan rasa. Seseorang pernah memahamkannya, kalau kau tak mau menyebut menceramahinya.

Paling penting, Neptunus sadar, ia tak boleh mencintai manusia. Ia semestinya menemukan Salacia.

“Aku gak mau sepuluh, dua puluh tahun dari hari ini, aku masih terus-terusan memikirkan orang yang sama. bingung di antara penyesalan dan penerimaan.” - Perahu Kertas

 

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar