In The Librarian

Jikalau Cinta Tidak Gila, Bukan Cinta Namanya

“Kau dan aku tak akan pernah bisa berpisah lagi, kita bersama selamanya,” katanya.

Sejak itu Among menyatu dalam diri Briant. Namun orang-orang di sekelilingnya, kerabat dan keluarganya tak bisa terima. Briant ditempatkan di sebuah kamar, mengenakan seragam seperti penghuni kamar lainnya.

Penggalan kata-kata di bagian akhir cerita “Perempuan yang Melukis Wajah” jadi mengingatkan saya kepada perkataan seorang penulis kebangsaan Spanyol, Pedro Calderon: when love is not madness, it is not love. Saya menemukan potongan kalimat ini dari “huruf kecil”.

Saya memahami sedikit-sedikit. Sekumpulan sedikit yang melebar. Maka saya jadi belajar banyak. Barangkali memang benar seperti itu. Seringkali jatuh cinta membuat kita jadi (tergila-)gila. Maka sungguh pun demikian, si-jatuh-cinta hendaknya mengerti ketika sedang melalui situasi ketidakwarasan.  Sebab serupa bom waktu, ketika akhirnya ia meledak, disadari atau tidak, rupanya ia sudah tiba di jurang ketidakberdayaan. Yang ada hanya tersisa nestapa dalam naungan kegundahan.

Saya punya seorang teman laki-laki. Tiap waktu ia amat gemar menolong. Meminjamkan uang ketika ada yang tengah membutuhkan. Membantu menyeberangkan nenek di tengah ramainya jalan raya dengan kendaraan di tengah-tengah rimbunnya hutan beton. Turut mencarikan barang-barang yang hilang: senyum sahabatnya misalnya.

Intinya, selama ia mampu, akan ia berikan. Sayang, sebab kebaikan-kebaikannya itu, beberapa teman perempuannya jadi salah menafsirkan perlakuannya. Dikiranya, ia memiliki rasa. Saat diminta untuk jujur, teman laki-laki saya melakukannya. Ia sungguh tak punya rasa yang sepadan. Teman perempuannya jadi patah hati, lalu melabeli tak ada yang lebih jahat daripada teman laki-laki saya. Siapa yang salah. Gila, bukan?

Saya juga punya seorang teman perempuan. Ia senang bercerita pada saya: ada sahabat laki-laki yang ia sukai. Sudah tiga tahun lamanya ia bertahan dengan perasaan, membelenggu dan terbelenggu diri sendiri. Kesalahan terbesarnya adalah ia mengaku cintanya kepada saya. Maksud saya, bukan mencintai saya, tetapi mengaku mencintai sahabatnya itu kepada saya. Gila juga, bukan? Padahal mendengar cerita yang ia tuturkan di hampir tiap hari, mampu ditarik kesimpulan jikalau teman laki-lakinya itu memiliki rasa yang sama. Dalam beberapa waktu, saya memang jadi sedikit sok tahu.

Atau, kau pernah membaca buku Taiwan “You are The Apple of My Eye”? Ada filmnya juga, kalau kau belum membaca bukunya. Jing Teng, laki-laki yang tidak mampu berkata jujur dengan perasaannya. Delapan tahun lamanya, ia berbohong dengan diri sendiri. Tak ada kebohongan paling miris dan mengiris-iris selain membohongi diri sendiri. Beberapa kesempatan, sebenarnya ia boleh mendapatkan yang ia butuhkan: Shen Jiayi, teman sekelasnya. Meski hingga akhir, ia kukuh berbesar hati untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ini berakhir buruk tapi tetap membahagiakan. Cerita semi autobiografi penulisnya, Giddens Ko ini juga terbilang gila.

Jikalau hendak menemukan versi yang lebih bahagia, kau bisa membaca buku “Refrain”, menonton film “Crazy Little Thing Called Love”, anime “Sakurasou no Pet na Kanojo”, atau drama “Playfull Kiss”. Meski butuh waktu yang tak sedikit, Nata dan Niki mampu bersama dengan surat yang tertahan lama: “it’s always been you”. Pun dengan yang lain, kekuatan perasaan yang positif. Luar biasa gila.

Tentang “Perempuan yang Melukis Wajah”, kisahnya yang sedu sedan dan perihal kehilangan. Ia tulus mencintai calon suaminya. Beberapa saat sebelum hari pernikahan, kekasihnya meninggal(kannya). Untuk meyakinkan kekasihnya tak kemana-mana, ia senantiasa memandang wajah kekasihnya itu dari balik pigura foto. Hingga di foto yang terakhir, ia tak kehabisan akal demi mengobati kerinduannya. Ia pun membeli kanvas dan cat lukis, lantas menggoreskannya untuk menghasilkan citra kekasihnya. Kanvas penuh. Ia masih tak patah arang. Ia melukis wajah kekasih di lengan, hingga dadanya. Lantas menggunting rambut persis serupa potongan rambut calon suaminya.


“Kau dan aku tak akan pernah bisa berpisah lagi, kita bersama selamanya,” katanya.

Sejak itu Among menyatu dalam diri Briant. Namun orang-orang di sekelilingnya, kerabat dan keluarganya tak bisa terima. Briant ditempatkan di sebuah kamar, mengenakan seragam seperti penghuni kamar lainnya.

Sumber

Selain cerita itu, “Humsafar”,“Bagaikan Cerita Cinta yang Tokoh Utamanya Mengasingkan Diri ke Gunung, ” dan “Perempuan Bermafela Kelabu” adalah beberapa yang terbaik. Kebanyakan cerita yang berlatar hujan itu pun bercerita perihal kesedihan, perpisahan, dan kenangan yang ditanggalkan. Barangkali, sebab hujan memang adalah air mata dari kesedihan yang meluruh dari atas–langit. Air mata, meski mampu menyiratkan kebahagiaan, tetapi lebih sering untuk mengguratkan kegundahan. Gila.

Jikalau cinta tidak gila, bukan cinta namanya. Hahaha, klise sekali.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar