In Imaginary Talk Neptune Says

"Kugy, Sudah Kubilang, Ferdinand Benar"

“Bagaimana kabar Keenan? Sekembalimu nanti dari gunung, barangkali semua sudah sia-sia sebab aku tak lagi terhubung.”

Tidak. Saya tak sedang menuliskan catatan kematian. Seorang teman–namanya Kugy– sedang mulai bercerita perihal teman imajinya, Neptunus.

***

Saat itu, Kugy sedang mengajar anak-anak usia sekolah yang menanti hak asasi. Sudah hampir sembilan windu lamanya, uluran tangan pemerintah tak pernah sampai menggapai. Tentu bukan waktu yang singkat, apalagi untuk ukuran menanti yang tak pasti. Kugy diajak oleh banyak rakyat sipil yang masih sadar memiliki hati dan bergerak dengan aksi. Penguasa serta cukong berdasi tak boleh diharap lama sekali.

Sumber

Radar yang dimiliki Kugy tak mampu mendeteksi ada yang salah dengan teman imajinya. Lebih dari seribu meter di atas permukaan laut dekat sana. Neptunus pun tak mampu bergerak terlalu tinggi. Di gunung, tak ada air laut. Tertinggallah ia dengan patah hati yang berlarut-larut.

Di tepi pantai, Neptunus duduk sendirian. Terjebak dalam delusinya yang perlahan membunuh logisnya pikiran. Kawan-kawannya hanya terdiam memperhatikan dengan saksama dari nun kejauhan. Undang-undang menetapkan untuk tak mencampuri urusan sesama kawan.

Pluto – yang pertama kali menurutkan kesedihan melihat kawan lamanya duduk termenung tak karuan. Ia tergugu. “Apa yang sampai membuatnya terlihat sedemikian lirih? Setahuku… terbuang dari kumpulan adalah yang paling membuat sedih.” Mars – dengan congkak mendengus kesal dalam gumamanya. “Sejak kapan dewa bisa jadi patah hati? Merendah-rendahkan kasta saja.” Venus – menimpali dengan keanggunan penuh rupawan. “Kau tak pernah tahu rasanya patah hati sebelum jatuh hati. Dalam hidup, perang perlu, tapi cinta lebih diperlukan."

Neptunus tentu tak pernah mendengar obrolan kawan-kawannya. Ia masih sibuk sendiri dengan pikirannya. Otaknya terasa mual. Andai ia bisa, hendak ia muntahkan segala isi yan memberati bebannya. Ia membenarkan, sejak kapan ia menjadi sedimikian lemah. Sebelum-sebelumnya, patah hati dilewati begitu mudah.

Lebih dari setahun sejak perjumpaan pertama kita. Pertemuan terakhir, kau masih tampak cantik seperti biasa. Neptunus masih tak bisa melepaskan ingatan dari kenangan yang masih menggenang. Tak ada pengaruh, peduli setan dengan musim kemarau panjang. Semakin lama, semakin ia banyak mengingat hari-hari bersama kekasihnya. Ia menyerah, tak mampu mengendalikan diri sendiri. Tak pernah dipikirkan sebelumnya, patah hati bisa sesulit itu.

Ia pernah mendengar kabar perempuan patah hati yang menemukan kembali cintanya melalui mimpi. Di suatu senja yang sama, ia juga melihat lelaki patah hati yang menemukan kembali cinta di kedai kopi. Namun, ia kembali sibuk bertanya pada diri sendiri: bagaimana menemukan kembali cinta bagi dewa yang patah hati?

Andai Kugy tak pergi sejauh itu, Neptunus tentu tak akan ditikam rasa penasarannya sendiri. Kucing-kucing sudah mati. Dicabik-cabiknya daging kucing lalu sedemikian rupa disulapnya menjadi serupa perahu kertas. Di hadapan tepi pantai, ia melarungkan perahu kertas. Neptunus masih cukup kuat untuk membuat perahu tersebut melawan arus. Dari muara ke hulu. Hingga ditemukan perahu kertas itu oleh temannya–Kugy.

Selepas itu, seketika napas Neptunus memburu lalu tersengal hingga tubuhnya mengejang. Matahari sore di seberang tepi pantai turut mengiringinya kembali ke peraduan. Ia meluruh tersapu gelombang ombak, tersaru ke lautan.

Why are you so blind, nobody loves you the way I am.
Sekali ini saja, temui aku di kedai kopi dalam mimpi.”

Sehari setelah kepulangan Kugy, tersiar trending topic di Instagram dengan sederetan regram. Tertulis captionSeorang Pemuda Mati Diracuni Kopi Patah Hati.


"Nggak semua dongeng happy ending, apalagi realita" - Perahu Kertas

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar