In Imaginary Talk

The Last Song Ever

I hate everytime when you’re mad, it’s bad! I’m hurt and it’s hard. Give me your cute smile, as usual you. I do miss the old you. Haha, seems like silly imagination. Yet, people change, and so do us.

Karena pikiran kita sedang kalut, sepandai dan sebijak apapun tak boleh semau-maunya menetapkan pilihan keputusan. Melangkah ke depan, menuju ke kanan, atau ke kirikah? Mundur beberapa langkah ke belakang? Atau diam saja tak memutuskan apa-apa, pun termasuk bagian dari pilihan, kan?

You know, that’s why “teman curhat” is exist, to complete your eyes, ears, and heart.

“Memulai kehidupan yang baru, yang mesti kulakukan hanya satu. Jangan terlalu serius memikirkan segala sesuatu, harus menjaga jarak dengan segala sesuatu–itu saja.” – Norwegian Wood, Haruki Murakami.

Saya senang setiap kali menemukan bacaan menghibur. Seperti anak ayam bersembunyi di belukar dari kejaran elang pemangsa. Sama halnya seperti mendengar gurauan dari teman sanguinis, atau menceritakan hal-hal sedih dengan teman melankolis. Termasuk ketika mendengar daftar putar dengan repeat mode dari album Dirty Work-nya All Time Low.
Hari-hari sudah berjalan biasa saja. Lalu ada yang datang lagi. Meruntuhkan benteng pertahanan, meluruhkan batin yang sebenarnya masih bergolak. Kau datang, dan semuanya menjadi lebih baik. Tapi, mungkin benar bukan kamu namanya, jikalau janjimu akan tetap dan tepat. Satu yang tak pernah berubah darimu, selalu samar yang bermuara pada semu.

Membayangkan kembali apa yang terjadi saja membuat lutut serasa seperti mau lepas. Lebih sering tak memperhatikan  dosen sedang memberi ceramah di kelas, lebih banyak bengong ketika teman bercerita. Hingga untuk beberapa waktu jadi gemetar dan merasa biru. Pikiran mengawang-awang ke malam-malam yang berat. Bangun pagi menjadi aktifitas yang paling ngeri, sebab hari-hari akan kembali dijalani dengan penat.

Satu nasib baik, masih selalu ada perempuan yang tak pernah tidak mengerti selalu hadir meski via suara. Ia memang paling mengerti saat ada yang berjalan tak beres. Perempuan itu yang tanpa diminta-minta akan menelepon lalu menanyakan kabar. Saya berbohong tentunya, dalam percakapan, saya akan selalu baik. Kalimat yang berulang-ulang dalam seharian.

“Ada yang diam-diam mendoakanmu,
dalam-dalam
Percayalah!” ­­– Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat Lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri, Andi Gunawan

Saya capai untuk bersabar – menahan cemburu, menelan rindu. Disangkanya semua akan kembali berjalan indah, tapi mau sampai kapan menenun harapan, menenung impian. Hidup saya sudah terlalu pelik, jadi tak usahlah kau usik.

Kau ingat, ketika kau menjejak laut, saat itu saya sedang menikmati semalam di dataran tinggi. Lalu, saat kau menuju gunung, saya justru berbelok ke tepian pantai. Kita ini... Bahkan, semesta amat pandai berbahasa. Kita, mampu tidak membacanya?

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar