In Slice of Life

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Semalam sebelumnya, bapak datang ke redaksi. Sebetulnya ada pekerjaan kantor yang minta diselesaikan dengan akses internet. Tapi sebelum menuju ke kedai kopi dengan wifi, di redaksi pun sebenarnya punya akses. Jadi di sanalah saja.

Namun, hal pertama yang bapak tanyakan malam itu bukan soal tugas pekerjaannya. “Sudah di-sms ibumu?” Saya jawab, belum. Ada apa memangnya? “Sekarat mi nenek mu’ung”. Bibir saya kelu, saya tidak bisa percaya. Seketika saya mengirim pesan singkat ke ibu, kenapa nenek. Butuh waktu lama menerima balasannya. “Dibacakan syahadat”.

Pandangan saya memburam selepas membaca pesan singkat yang tampak tergesa-gesa. Ada kabut  mendadak muncul yang agak menghalangi pandangan. Mencoba menghubungi dua sepupu yang paling dekat, satu di Gowa, lainnya di Bantaeng. Saat itu juga, sekelebat pikiran saya sudah jauh  berkelana ke satu rumah panggung di kampung halaman.

Hingga di ujung malam, amat sulit untuk memejamkan mata. Dering panggilan telepon ibu berbunyi di sudut kamar. “Tidur mi nak, doakan saja, sudah baikan nenekmu.” Saya kembali tak bisa percaya begitu saja. Ini bukan pertama kalinya. Pada suatu malam, ibu pernah mengabari tante yang sedang sekarat. Dan keesokan paginya, yang saya temukan adalah rumpun kabar duka. Sejujurnya, saya tidak siap bertemu dengan pagi.

Mengingat-ingat kembali, beberapa hari sebelumnya saya merasa amat dekat dengan kematian. Saya pikir, saya sudah mau mati. Atau, barangkali insiden-insiden belakangan memang melatih dada untuk resistan mendengar kabar duka. Supaya tidak terlalu perih lagi, saya harus membiasakan dada merasa berat. Firasat saja.

***

“Nek, saya pamit. Baik-baik ki nah,” saya pamit dari nenek pada lebaran Idul Fitri lalu. Kala itu, terakhir saya mampu menggamit jari-jari tangannya. Saya terlalu egois sampai tak mau peduli apakah dia paham maksud saya. Pokoknya selama saya tidak ada, dia harus tetap baik-baik saja.

Melewati usia senja, rambut putihnya sudah dipangkas pendek. Sekujur kulitnya telah berkeriput. Dulu, katanya ia mendera rematik. Sekarang, ia tak bisa banyak-banyak bergerak. Hampir seluruh badannya sudah bau pesing. Tapi saya tetap mencium kedua tangannya, saya merangkul tubuhnya sebisanya. Meskipun ia sudah tak lagi mampu mengenali saya, sebab tak satupun yang ia kenali lagi.

Semenjak kabar dari ibu, bapak, dan sepupu semalam, saya tak berpikir jernih. Pikiran saya sudah terlanjur bermukim di kampung halaman. Nenek saya bagaimana kabarnya?

Pagi-pagi ibu kembali menelepon. Dering panggilannya sempat membuat saya ragu untuk menjawab. Ah, saya tetap saja mengangkat pada akhirnya. “Nenekmu sudah baik-baik. Tadi malam bola matanya menghadap ke atas, mulutnya tidak bisa telan air. Tadi sudah bisa minum air setetes-setetes.”

Saya menggumam syukur. Meski saya tetap saja masih pasang kuda-kuda untuk kabar selanjutnya. Hari berlalu terlalu begitu lambat. Saya ke kampus sampai bosan sendirian. Kemudian mencari kawan-kawan kembali di redaksi. Sudah saatnya saya lebih banyak bertanggung jawab pada diri sendiri.

Malamnya, ada rapat kepanitiaan. Saya menghubungi bapak jikalau malam ini barangkali tak akan pulang ke rumah. Pukul sembilan malam, dering telepon ibu kembali berbunyi nyaring. Dering telepon bukan bunyi yang hendak saya dengar untuk malam itu. Saya kembali diliputi waswas dan dihinggapi cemas tiap mendengar dering telepon sejak seharian.Bukan nada yang bagus, telinga saya mencium adanya sinyal bahaya.

Tanpa basa-basi, ibu saya straight to the point. “Tidak adami nenek, nak,” Sayup-sayup, ramai terdengar perbincangan dalam dialek Konjo di balik suara ibu. Riuh rendah, ada emosi sendu pilu dalam telepon. Saya memutus paksa telepon dari ibu. Tak sanggup rasanya mendengar kabar kematian.

Saat itu, dada saya seperti mau meledak rasanya. Ada amarah yang tertahan hendak ditujukan kemana. Terlintas sesal dalam diri, kenapa tidak memaksa bapak saja untuk pulang sejak tahu nenek sudah menerima undangan dari malaikat maut. Saya tidak di samping nenek menghembuskan nafas terakhir. Tidak melihat nenek terakhir kali menatap dunia. Tidak sempat berpamitan di ujung usianya.

Saat dirawat di rumah sakit, saya pernah menyaksikan langsung bagaimana seseorang menghembuskan nafas terakhir dengan dikelilingi keluarganya. Seram, dan suram, dan muram sekali. Orang-orang meraung sambil menangis keras-keras. Ngeri juga rasanya kalau harus melihat nenek disiksa sakaratul maut. Kata guru agama sewaktu sekolah, dijemput malaikat Izrail itu rasanya sakit sekali. Tentu, sakit dalam arti yang sesungguhnya.

Bulan separuh malam itu mengantar nenek menuju rengkuhan Ilahi. Saya menatap dan menitip pesan pada bulan keperakan, titip salam buat nenek. Saya menangis sejadi-jadinya di perjalanan pulang, tanpa suara. Sesampai di rumah, bapak bilang, besok subuh-subuh baru kami pulang.

***



Hampir separuh usia saya habiskan bersama nenek. Sewindu lamanya, saya tinggal serumah dengan nenek. Sampai saat itu, saya merasa menjadi cucu paling dekat dengannya. Nenek tidak selemah sekarang, ia masih bisa ke kebun dan ladang, masih sanggup memetik biji kopi, cokelat, merica. Saya gemar mengikutinya ke kebun. Sampai kakinya menjadi tiga, ia masih kuat ke kebun.

Sejak kecil pun, saya telah akrab dengan perpisahan. Menjelang naik kelas empat sekolah dasar, saya tidak lagi tinggal dengan nenek. Saya pindah sekolah sekaligus pindah rumah. Karena masih satu kabupaten, sedapat mungkin tiap akhir pekannya, saya dan orang tua berkunjung ke kampung halaman. Sampai duduk di sekolah menengah pertama, tiap kali pulang, saya selalu tidur di sebelah nenek. Setelah kuliah, tak banyak waktu bersama nenek lagi.

Kenakalan semasa kanak, nenek yang akan menjadi tameng saya ketika sedang kena marah ibu. Saya akan gesit bersembunyi di belakang badan nenek, lalu ia yang balik memarahi ibu. Setiap waktu berpamitan, nenek akan buru-buru memanggil ke kamarnya, lalu menyelipkan uang di kantung baju sembari berbisik, “Jangan kasih tahu ibumu, ini belikan gula-gula”. Tak lama setelah itu, tubuhnya yang mulai ringkih akan memeluk saya.

Sudah lama sejak nenek tak lagi memperdengarkan cerita perjalanan hidupnya. Sebelum tidur, ia akan cerewet mendongengkan bagaimana ia tak bisa bersekolah karena sakit-sakitan sejak kecil. Atau tentang saudara-saudaranya yang lebih duluan wafat menjadikannya pemegang juara bertahan di antara lainnya. Atau tentang kisah pelarian dari kampung ke kampung bersama kakek pada masa perang gerilya pemberontakan Kahar Muzakkar di daerah Kajang. Atau tentang bagaimana ia bisa membesarkan sembilan anak-anaknya sampai sesukses sekarang. Saya merindukan cerita-cerita itu. Siapa lagi yang bisa bercerita?

***

Foto: Riska
Biasanya, saya menemukan adegan semacam ini di film drama keluarga. Pukul tujuh pagi, saya tiba di depan rumah panggung kampung halaman. Bendera putih tersampir di tiang yang terpancang lemah. Kerabat dan tetangga ramai dengan pakaian gelap-gelap. Saya tak peduli berjalan melalui mereka. Melangkah tertunduk, menghitung anak tangga yang dilalui, hingga di ambang pintu menyaksikan kerabat dekat dengan mata yang sama-sama sembap. Kakek terduduk di satu sisi, di sebelahnya ibu dan saudara-saudaranya masih terguguk. Saya ikut tak kuasa membendung air mata. Jenazah nenek sudah ditutupi kain berlapis-lapis, pelan-pelan saya menyingkap, wajah nenek tak bergeming. Badannya membeku. Saya menjauh dari kumpulan, mengasingkan diri di kamar.

Selamat jalan, Nek. Sudah betul kata penyair negeri ini: yang fana adalah waktu, kita abadi.

Foto: Riska
Kasamung binti Abdul Karim, meninggalkan seorang suami, 9 anak, di antaranya 4 laki-laki dan 5 perempuan, 27 cucu, serta 2 cicit. Seorang kerabat mengucap kalimat perpisahan di pemakaman nenek. Jasadnya dimakamkan di samping rumah, pekuburan keluarga. Kelak, rumah terakhirnya yang akan sering-sering saya kunjungi tiap pulang ke kampung halaman.
Nek, saya rindu...



Ps: Saya harus berhenti berkali-kali menuntaskan cerita tentang nenek. Sampai sekarang, saya masih tersedu-sedu ketika mengingat perempuan pengasih itu. Saya banyak dosa pada nenek, sampai di detik terakhirnya, saya belum sempat meminta maaf. Maafkan, nek.

Related Articles

3 komentar:

  1. Aduh, saya baru tahu kemarin, sehari setelahnya. Tidak sempat nelepon bapakmu (padahal ada niat). Salam buat keluarga, adek "angkat". :)

    BalasHapus
  2. Selasa, 22 September 2015, nenek saya juga sudah "pulang". Untungnya saya bisa berada di sisinya sampai dia pergi.
    Terima kasih kepada nenek kita yang baik, nenek yang menjadi alasan kita pulang, nenek yang selalu bilang "pantang tidur sebelum mendoakan anak-anak dan cucu-cucunya".
    Al Fatihah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya dikabari Pipi' pertama kali soal nenekmu. Turut berduka cita juga untuk Beby JKT48KW. :) Semoga nenek kita dilapangkan kuburnya, kita juga ditabahkan.

      Hapus