In The Librarian

Lima Buku Pertama yang Dibaca Pada Bulan Pertama

1.
Bangkok

Dok. Pribadi
Pada suatu hari di masa depan, saya percaya teleportasi bukan lagi angan-angan semata. Orang-orang bisa berpindah ruang pada waktu yang tak butuh jeda panjang. Dan, percayalah, teleportasi bukan hanya mimpi manis yang membuai pejuang LDR. Lebih dari itu...

Seperti untuk orang yang menganggap malam sebagai monster buruk rupa agar segera ditaklukkan. Seperti orang yang menganggap pagi sebagai lembar buku usang yang tak sabar dikhatamkan. Seperti orang yang menganggap siang sebagai terik dan selalu saja menyengat berlebih. Seperti orang yang menganggap senja sebagai pantulan warna perih serta memar dari hati. Seperti orang yang sakit dengan hidupnya. Not for running, but for ruining sick life. And, let me go to... Bangkok!

2.        
Critical Eleven
Dok. Pribadi
Pada ketinggian ratusan kaki di atas permukaan daratan, pada burung besi, pada sebelas menit yang menentukan, sepasang kekasih sedang bertengkar. Tanpa suara. Semua baik-baik saja di tiga menit pertama. Masalah timbul kemudian. Mulut sepakat terkunci pada delapan menit terakhir. Betapa, lidah lebih tajam dari pedang. Salah satu melukai, lainnya terluka. Salah satu hendak memohon maaf, lainnya menutup pintu hati.

Namun dari apa yang saya baca, “Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.” Baik, kita berbaikan.

3.        
Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?
Dok. Pribadi
Pada musim hujan, kehangatan dapat kita temukan dari sesap kopi dan pelukan.  Namun demi alasan kesehatan, saya lebih memilih menemukan kehangatan lewat pelukan. Kau tahu, kopi olahan pabrik punya zat aditif. Tapi pelukan pasti akan mengkatalis untuk hormon serotonin.

Sayang, memeluk dan dipeluk adalah dua hal berbeda, meski sama-sama bicara soal pelukan. Saya lebih senang dipeluk, meski beberapa bulan ini lebih banyak memeluk. Kapan terakhir kali kau memeluk, saya dipeluk?

4.        
Puya ke Puya
Pada saatnya tiba nanti, kita tak lagi mampu saling mengindrai. Sebelum semuanya terjadi, mari menuntaskan pertemuan. Biar rindu tak perlu mengusik. Atau, bila kau memang senang menjadi perindu, kita tak usah bertemu. Paling penting, yang fana adalah waktu, kita abadi. Dukamu juga.

Tapi, tunggu, surga diciptakan karena... ? Jangan bertanya kenapa sebab saya pun tak tahu apa jawabnya.

5.        
Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita
Pada zaman dahulu kala, hiduplah tokoh-tokoh dalam satu cerita. Mereka hidup berdampingan, berbaikan. Hingga tiba suatu waktu, cerita menemui klimaksnya. Tokoh-tokoh mulai memunculkan konflik, menimbulkan intrik. Mereka menghidupkan kebencian, mematikan kebajikan. Tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita.

Pada bulan ini, setalah saya menghitung-hitung, kita sudah melawan banyak hal. Melawan etika, melawan kasih, melawan takdir, melawan kenang. Tahukah, kitalah yang melawan diri kita sendiri. tahukah, kitalah tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita.

---------

Beberapa Nukilan dari Critical Eleven:
“Lagi pula, aku pikir cinta itu untuk dirasakan sendiri, kan, bukan untuk dijelaskan ke orang lain?”

“Kata orang, saat kita berbohong satu kali,  sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang, dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri.”

“Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit. It never gets easier.”

“The best thing for being sad is to learn something. That's the only thing that never fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder of your veins, you may miss your only love, you may see the world about you devastated by evil lunatics, or know your honour trampled in the sewers of baser minds. There is only one thing for it then — to learn. Learn why the world wags and what wags it.” ― T.H. White, The Once and Future King

“Tuhan-mu tiada Meninggalkan kamu dan tiada (pula) Benci kepadamu, dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” ― QS Adh Dhuha: 3 – 5


Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar