In Imaginary Talk Neptune Says

Surat (Tentang) Imajiner Untuk Kugy

To:  Kugy
-------------

Bagaimana kabarmu? Kita, lama tak berbalas surat. Kau sadar, sejak keberangkatanmu ke seberang negeri, aku agak sulit menemukan waktu yang tepat lagi. Kuputuskan mala mini, untuk memutuskan hilang kontak yang ada. (Kita sebenarnya tak benar-benar hilang kontak, banyak kali kita sudah bertemu langsung. Tapi, dengan surat, belum, dan itu perkara lain.)

Beberapa malam terakhir, bintang agak sulit kelihatan di langit malam. Awan mendung menghalang. Di siang hari pun, lebih sering turun hujan. Dan matahari senja hampir-hampir tak pernah tampak tenggelam. Ah, kata petugas klimatologi dari surat kabar harian edisi kemarin, musim penghujan memuncak di akhir bulan ini hingga awal bulan mendatang. Tapi, tahu apa mereka? Di dadaku, lebih membeku. Di mulutnya, lebih banyak kelu. Itu musim penghujan terburuk, dan petugas klimatologi itu tak tahu apa-apa.

Betul, Kugy. Aku tengah duduk sila dengan posisi hendak yoga. Salah, Kugy. Aku tengah duduk sila dengan posisi memangku laptop sambil jari menari di atas keyboard. Kau tak pernah heran mengapa aku bisa secanggih ini sekarang. Kuputuskan untuk menggunakan pula ponsel pembelianmu. Kuakui itu sangat membantu, tapi ketakutan lain mendadak muncul. Bagaimana bila nanti radar kita tak lagi bisa saling menemukan? Ah, mungkin aku hanya sementara diliputi banyak ketakutan.

Di balai-balai depan rumah setengah jadi. Aku di sini sekarang. Kau pernah kubawa ke sini, kan? Kita perbincangkan ketakutan-ketakutan kita di malam-malam yang kelam. Masih ketakutanmu tentang peliknya hubungan. Ketakutanku? Tentang pertama-pertama.... yang semestinya menjadi terakhir.

Di balai-balai depan rumah setengah jadi. Aku di sini sekarang. Kau pernah kubawa ke sini, kan? Kuberi tahu pula padamu, ada seseorang yang hendak kuajak ke tempat ini. Sampai sekarang, aku masih memimpikan hal itu bisa menyata. Akan kuperlihatkan padanya, sawah menghampar hijau saat musim tanam. Kini menjadi danau dadakan karena musim penghujan. Atau lampu-lampu dari rumah warga yang temaram. Atau siluet aneka rupa pepohonan. Dan kami akan bercumbu semalaman sembari menghitung bintang, berpelukan dan mata terpejam. Betapa... mimpi yang indah.
Kau sudah kuberi tahu pada malam itu. Masih kau ingat? Perihal dan hal perih beberapa bulan yang berjalan begitu hambar. (Hei, aku suka dengan diksi ‘Perihal dan hal perih’ setelah menemukannya di salah satu buku puisi Aan Mansyur.) Kuakui, tak lepas masalah ini dari salahku. Dengan apa memperbaiki seperti semula, aku bertanya waktu itu. Kau bilang, tak akan bisa. Mungkin kau benar, kami tak akan pernah bisa kembali ke awal sebelum rasa itu ada. Sekali kau menyimpan rasa, selamanya kau menjadi orang berbeda. Tidak peduli, lebih baikkah atau lebih burukkah.

Kugy, kau katakan pula pada malam itu rahasiamu. Termasuk saran seorang temanmu untuk membaca suatu buku. Critical Eleven. Sebelum kau mengatakan itu, aku yang terlebih dahulu membahasnya. Kukatakan, hubungan itu yang sedang kami lalui, Kugy. Akulah  Ale, dialah Anya in the-not-fictional-couple.

Kita sama-sama berdoa saja. Untuk kehidupan kita bersama, semoga kebahagiaan akan segera mendampingi.  Dan kita tak perlu repot membenamkan diri di kepura-puraan baik-baik saja. Karena memang, kita baik-baik saja. Nanti. Mudah-mudahan. Amin.

-------------
With love,

Neptune.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar