In Imaginary Talk

What’s the first thing we learn but the most often we forget?

Masih ingat bagaimana persis rasanya sewaktu dilahirkan dari rahim bunda terkasih? Masih jelas dalam benak seperti apa warna dunia yang pertama kali diindrai? Atau masih belum move on bagaimana kenangan-kenangan awal bernafas dengan sekujur tubuh penuh darah?

Kalau masih ingat, masih jelas dalam benak, masih belum bisa move on, saya hendak bertanya: di menit pertama dalam hidup, apa yang dipelajari?

Tentu, bukan merangkak. Bukan mengeja. Apalagi calistung-baca tulis hitung.

Kalau sudah tidak ingat, tidak jelas dalam benak, sudah bisa move on, tak mengapa. Saya hanya sedang hendak mengetes, memanggil memori yang ada. Tapi kita sepaham kalau setiap bayi yang lahir (entah bantuan dukun kampung, arahan bidan delima, operasi dokter ahli obgyn, atau dengan diri ibu sendiri pun), bayi itu akan menangis.

Ya, menangis adalah salah satu cara kita untuk berkomunikasi. Untuk memberi tahu dukun kampung, bidan delima, dokter ahli obgyn, ibu kandung kalau anak yang dikandungnya lahir dengan selamat. Kalau kita bisa merasa perbedaan suhu dari dalam rahim, bisa bernafas dengan baik.

Communication. It's the first thing we really learn in life. Funny thing is, once we grow up, learn our words and really start talking, the harder it becomes to know what to say. Or how to ask for what we really need.” – Meredith Grey, Grey’s Anatomy
Sayangnya, apa yang pertama kali kita pelajari seringkali luput dari ingatan. Barangkali karena sudah banyak memori yang masuk, kita sudah bagai kacang lupa kulit. Seperti pepatah konyol: banyak belajar, banyak tahu. banyak tahu, banyak ingat. banyak ingat, banyak lupa.


Shit happens!

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar