In Slice of Life

Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Malam Hari

Ada malam saya merasa amat sulit tertidur. Sejumlah pikiran bercabang dan diri seolah ikut melayang. Pada saat itu, saya barangkali sedang memikirkan hal-hal rumit. Kamu, salah satunya. Lainnya ketika saya sedang benar-benar tidak bisa melekaskan dan melepaskan diri dari ingatan tentang perempuan pengasih. Yang telah ada jauh hari sebelum saya ada. Yang hingga kini tetap, “yang fana adalah waktu, kita abadi.

Ada malam saya melihat televisi sekaligus melihatmu. Cerita ini semoga tidak pernah saya lupakan. Malam-malam itu sedang musim tayang Heart Series. Saya tak boleh absen menontonnya waktu itu. Yuki Kato belum se-Japanese-ish sekarang. Irshadi Bagas dan Esa Sigit masih culun-culunnya. Tapi tiap malam, sebelum pukul sembilan, nenek akan selalu ribut dengan tongkat kayunya yang menumbuk-numbuk papan rumah panggung. Akan diperintahkan untuk mematikan tv dan bersegera tidur. Tinggal kenangan lama. Malam ini sudah tak ada lagi tontonan semenarik dulu, “akan saya matikan tv nek, tanpa dipinta.

Ada malam saya sungguh ingin kembali mendengar celotehannya sebelum tidur. Semua keluhannya ingin saya dengar kembali. Tentang ketakutannya menjadi tua setelah menyekolahkan semua anaknya tinggi-tinggi. Tentang ketakutannya dengan sepi dan sendiri. Selama berceloteh dulu, saya hampir tak pernah membalasnya. Kali ini saya merasa perlu menjawab celotehnya, “nenek tidak pernah sendirian, yang seperti itu tidak boleh dikuatirkan. Nenek sekalipun tidak pernah sendirian.”

Ada malam saya rindu diceritakan kisah pengantar tidur. Di antara semua orang yang pernah menemani tidur, nenek adalah pendongeng paling baik. Sampai sekarang. Saya masih anak ingusan sejak tidur dengan nenek, sampai kelas dua atau tiga di SMP. Tidak semua memang bisa saya ingat. Tapi banyak dari semuanya berkesan. Tentang perjuangan bersama kakek membesarkan sembilan anak semasa perang gurilla (gerilya).

Sesekali saya bertanya kalau ada cerita yang mengganjal atau menegangkan. Seperti pernahkah nenek terluka atau setakut apakah nenek kalau-kalau kakek yang veteran tak pulang dari berperang. Masih ada yang belum saya tanyakan nek, atau sudah tak begitu mengingat, “bagaimana nenek pertama kali yakin kalau kakeklah orang yang dipilihkan-Nya?

Nenek Mu'ung (kiri), Kakek/Nenek Ali' (kanan)

Kakek sedang ada di Makassar sekarang. Kita paham betul, kakek tak pernah betul-betul rela meninggalkan rumah panggung yang telah ditinggali puluhan tahun. Makam nenek bahkan berjarak hanya sepelemparan batu dari rumah. Jadi bagaimana kakek bisa biasa-biasa saja?

Tapi, percayakan. Kakek akan lebih terawat di sini. Ada lebih banyak yang bisa mengurus makan, minum, dan mengingatkan waktu salat. Kakek juga boleh bergilir ke rumah semua anaknya yang ada di sini. Kakek pasti akan baik-baik saja, jadi nenek juga harus baik-baik di sana.

Pada setiap malam, akan selalu ada yang selalu mengingatkan jelang kabar duka. Tepat pukul sembilan malam. Supaya saya teratur mengirim alfatihah. Saya pelupa, jadi perlu sering-sering diingatkan. Untuk hal itu, saya tak boleh abai.

Malam ini, tepat dua puluh satu ketujuh.


Ps: Judul “Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Malam Hari” adalah adaptasi dari judul cerpen Bernard Batubara “Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Pagi Hari” dalam Milana.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar