In The Librarian

Ayah Rela Kehilangan Apapun, Kecuali Anaknya

Sabari hanya anak laki-laki biasa saja—jikalau terlalu kasar disebut buruk rupa. Keluarganya juga bukan dari orang berada. Ayahnya hanya guru Bahasa Indonesia di salah satu SD Pulau Belitong. Di Indonesia, sulit berharap punya harta berlimpah dengan sekadar menjadi guru.

Hal yang ia syukuri dari ayahnya sebab ia bisa mengalami pelajaran Bahasa Indonesia di rumahnya sehari-hari. Sering mendengar ayahnya berpuisi, Sabari turut pandai dan gemar merangkai kata dengan puitik.

Menjelang masuk SMA, Sabari belum menemukan puisi pada lawan jenisnya. Namun sekali ia tersihir daya pikat dari perempuan, saat ujian seleksi SMA, ia tak bisa sedikitpun berpaling. Segala cara ia coba agar perempuan yang ditaksir membalas rasanya.

Mengirim surat berisi puisi jadi senjata utamanya. Rasanya tak ada perempuan yang tak menyukai dijadikan puisi. Namun tidak dengan perempuan idaman Sabari, Marlena. Ia bahkan kesal dan muntab apabila harus meladeni Sabari dengan segala kekonyolan jatuh cintanya.

Hingga bertahun-tahun Sabari dibuat patah hati oleh Marlena. Perasaannya tak pernah bisa dibendung. Rindu tatkala merantau di ibu kota kabupaten tak mampu dituntaskannya. Meski telah menyibukkan diri dengan melakukan pekerjaan kasar, hingga nyaris menguras seluruh tenaganya. Harapnya, ia bisa tidur nyenyak setelah berkerja dengan khidmat. Nyatanya, tidak.
Suatu hari, kabar Marlena yang terkenal sering pergi dengan lelaki lain jadi bunting terdengar telinga Sabari. Keluarga Marlena menanggung malu sebab tak ada calon pengantin pria yang bisa menutupi aib. Diambillah Sabari kesempatan itu. Tak apa bukan anaknya. Asal ia bisa serumah dengan Marlena.

Setelah menikah, sayangnya Marlena nyaris tak pernah ada di rumah. Ia kembali pada kebiasaan lamanya, pergi dengan laki-laki lain. Sabari tetap sabar, ia punya “kekasih” baru. Anak tirinya dari Marlena—yang kerap dipanggilnya—Zorro.

Namun hidup sering tak memberikan pilihan menyenangkan. Sabari digugat cerai oleh Marlena. Tak lama kemudian, hari-hari indahnya bersama Zorro pun menjadi kenangan masa lalu. Marlena dan Zorro pergi dari rumah tanpa memberi kabar di hari-hari berikutnya.

Orang-orang bilang, kesabaran ada batasnya. Sabari tak bisa sabar lagi. Dan Sabari menjadi tak waras.

Apa masih pantas disebut ayah kalau sudah kehilangan anak?

Nama Buku : Ayah
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Rate : ⭐⭐⭐⭐

***

Ayah menjadi buku Andrea Hirata pertama yang saya baca. Saya sempat membaca Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi saat masih SMA, tapi tak tamat. Buku ini pun sudah lama mendekam sejak diberikan sebagai hadiah ulang tahun dua tahun yang lalu. Reading slump kali ini saya hadapi dengan buku yang saya harap bisa memupuk kebanggan kepada dan untuk menjadi ayah.

Saya tidak selalu senang dengan bapak, tapi saya tahu ia baik. Saya terbangun pagi tadi dengan tipikal generasi milenial, mengecek notifikasi media sosial. Saya membuka pesan whatsapp dan menemukan dua obrolan. Satu dari salah satu grup, satunya lagi pesan dari bapak. Pesan whatsapp bapak tidak jauh-jauh dari pesan siaran yang diterimanya. Salah satu di antara kata-kata motivasi, video renungan, atau lowongan kerja.

Pagi tadi, giliran tiga hal yang membawa penyakit, menjauhkan rezeki, empat hal yang merusak badan, menambah cerah wajah, menarik rezeki, dan tiga ayat Alquran yang harus diingat setiap kali ingin membuat maksiat. Sungguh pesan yang sangat berfaedah untuk mengawali hari, kan?

Saya tidak selalu senang dengan bapak, tapi saya tahu ia baik. Ia peduli—jikalau terlalu peduli disebut berlebihan—dengan masa depan anak-anaknya. Hampir tiap pekan ia selalu berkunjung ke rumah di Makassar. Ia tahu saya kerap meninggalkan adik perempuan sendirian di rumah.

Pedulinya juga kelihatan dari makin tingginya frekuensi mengingatkan progres penyelesaian studi putra sulungnya. Masih ada nilai C-nya? Bagaimana hasil mata kuliah yang diprogram ulang? Sudah selesai validasi instrumennya? Bagaimana konsulnya? Pembimbingnya orang mana? Tinggal di mana? Kalau tidak ketemu, minta janjian didatangi saja rumahnya? Sudah dapat berapa skor TOEFL? Kalau IELTS kira-kira sanggup di nilai berapa? Saya tak ingin mengecewakan bapak, jadi saya berusaha sebisa mungkin melakukan yang harus dilakukan sebelum diberi pertanyaan berulang.

Saya tidak selalu senang dengan bapak, tapi saya tahu ia baik. Bapak mungkin beberapa waktu berlaku keras untuk anak-anaknya. Cukup banyak larangan di dalam rumah, yang terlisan dan tidak terlisan. Tapi bapak bisa diajak bicara. Ia banyak memberi pertanyaan, karena jarang diberi pernyataan.


Saya juga akan menjadi bapak nantinya, menyayangi anaknya dengan baik. Tapi untuk sekarang, cukup dengan menemukan ibu untuk anak-anak dulu. Doakan bapak ya, nak!

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar