In Campus

Komitmen Mahasiswa Akhir

*Catatan Setelah Mengurus Izin Penelitian
**Tentang Target yang Berhasil dan Tak Berhasil Dicapai

Semakin sering bapak dan ibu mengingatkan kabar skripsi, semakin keras pula usaha saya untuk segera merampungkan. Orang tua bukan satu-satunya motivasi untuk mengerjakan skripsi, sebenarnya. Tapi memang mereka yang paling memberi pengaruh. Betapa tidak menyenangkannya lebih kerap disuguhi pertanyaan, “bagaimana kabar skripsimu?” ketimbang ditanya “bagaimana kabarmu, nak?”

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman di jurusan juga menanyakan penyelesaian studi. Ia adalah teman yang termasuk paling cepat sarjana di angkatan kami. Cara paling ampuh untuk menyerang saya pun tidak jauh-jauh dari soal orang tua. “Tidak kasihan ko dengan orang tuamu?”

Sebenarnya, saya agak risih dengan pernyataan teman saya itu. Memangnya dia tahu apa. Okelah, dia memang banyak tahu, terkadang sampai tahu segalanya.

Maka saya langsung berjanji pada teman itu, “Ramadhan saya akan sungguh-sungguh”. Janji itu juga yang saya tandaskan ke orang tua, “saya kerja mi”.

Sejak ujian proposal yang sudah hampir genap dirayakan setahun, saya memang tidak bergerak kemana-mana. Stuck in the moment. Barangkali karena cepat puas, setiap melewati satu tahap, saya sering beristirahat lama-lama. Padahal perjuangan masih butuh waktu lebih lama.

Janji tentang Ramadhan, saya serius. Beberapa teman saya mintai untuk membantu menyusun instrumen penelitian. Permintaan tolong yang retoris sebab meski banyak yang menyanggupi, saya tak menghubungi lagi. Hanya semacam pemberitahuan bahwa saya sedang melakukan sesuatu.

Beberapa hari sebelum hari lebaran, saya berhasil merampungkan instrumen setelah dikonsultasikan ke dosen pembimbing. Puasa di hari-hari terakhir, saya menyimpan sedikit kedongkolan dalam hati. Sebabnya, instrumen—yang dikerjakan hingga menanti waktu sahur bermalam-malam—rencananya sudah divalidasi sebelum mudik. Tapi, terkadang melakukan yang terbaik juga perlu nasib baik.

Di buku validasi instrumen, nama saya belum disandingkan dengan satu pun validator. Padahal, saya sudah mendaftarkan diri sebelum ujian proposal. Saya pulang kampung dengan instrumen yang tak bisa diapa-apakan.

Bereuforia seminggu di kampung, which is liburan pasca lebaran terlama sejak kuliah, banyak mendistraksi saya dari kehampaan melewati target validasi. Masuk hari kerja di kampus, saya lalu mengejar ketertinggalan. Mengecek ketersediaan tim validator, memohon validasi, hingga instrumen benar-benar tervalidasi menelan waktu agak lama, dua minggu. Waktu lebih banyak digunakan untuk menunggu di saat-saat seperti ini. Tapi, untuk apa saya “berlatih” selama hampir empat tahun menunggu hingga berjam-jam kalau menunggu dosen pembimbing dan validator jadi mudah menyerah? Oh, one more reason to love my past. *smooch*

This is what I grateful for. Target selanjutnya, mengantongi surat izin penelitian dari kampus untuk ditujukan ke kepala sekolah salah satu SMP negeri di Makassar di hari pertama tahun ajaran baru. Saya sukses mencapai target itu.

This gon' be usual view (whd)

So, right here I am now. Pagi-pagi saya sudah mendatangi SMP yang direncanakan jadi lokasi penelitian. Salah satu alasan memilih SMP sebenarnya karena saya lebih kerap berinteraksi dengan SMP sebagai mahasiswa Matematika. Di mata kuliah Magang I dan II, saya mengobservasi pembelajaran di SMP negeri di daerah Hartaco (antara SMP 18 atau SMP 27, saya lupa-lupa ingat). KKN pun, saya ditempatkan di SMP Negeri 5 Parepare (betapa saya merindukan kabar adik-adik gemesh di sana).

Saya juga ingat pernah menemani kakak senior merampungkan penelitiannya di SMP 3 Makassar. Waktu itu, saya menyadari anak SMP memang kerap bikin usil dengan tingkahnya yang masih kekanakan. Namun, canda dan tawa mereka tanpa dibuat-buat, bahagia tanpa pretensi. Itu, semoga saya juga mendapati hal serupa di bakal sekolah lokasi penelitian nanti.

Di ruang tunggu kepala sekolah, saya harus mendahulukan dua tamu yang lebih dahulu datang. Sesaat sebelum masuk ruangan, saya harus berhenti di depan pintu. Si bapak kepala sekolah sedang shalat dhuha, sepertinya. Ada ya pejabat kantoran menyempatkan shalat dhuha di ruang kerjanya? Ini awal yang baik, saya berpikir positif.

Setelah dipersilakan masuk, saya menjelaskan maksud. Responnya positif.

“Kenapa pilih meneliti di sini?”

“Begini pak, penelitian saya terkait stres akademik. Saya pikir, siswa di kota cenderung lebih banyak penyebab stresnya daripada di daerah.”

“Sudah pernah ambil data awal? Atau ada kenalannya di sini? Atau mantan siswa di sini?”

“Keluarga, pak, pernah ngajar di sini.”

Saya menyebut nama kerabat yang pernah mengajar di sekolah itu. Si bapak kepala sekolah mengenalnya seraya meminta bagian tata usaha memberi disposisi ke bagian humas sekolah.

Bagian humas dipegang oleh ibu guru yang ramah dan supel. Itu kesan terakhir yang saya tangkap sebelum ia meminta saya menghadap ke guru matematika yang akan menjadi “guru pamong” nantinya.

Merasa diterima guru-guru di sana, saya di atas awan, merasa menang. Ah, padahal ini baru permulaan, tidak boleh terlalu senang. Hingga orang yang saya temui terakhir, ibu guru matematika juga masih guru yang kelihatan gemar menolong.

“Bisa, nanti kamu tinggal ceritakan butuh kelas yang seperti apa. Yang banyak siswa nakalnyakah, yang pintarkah, yang ratakah, bisa dipilihkan. Minggu depan datang ke sini, bawa surat dari bagian perizinan pemerintah,” pesannya.

Saya mengucap terima kasih, memberi salam, lalu pulang.

People say, well beginning is half done (whd)

Pada akhirnya, meski sering ditemui kesulitan dan kejenuhan, mengerjakan skripsi sebenarnya ada juga yang menyenangkan. Mari sama-sama berkomitmen. Teruskan perjuanganmu, pejuang skripsi! 

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar