In The Librarian

Memaknai Hidup dari Kematian

For One More Day (Satu Hari Bersamamu) menjadi buku Mitch Albom ketiga yang saya baca. Sebelum itu, saya membaca Five People You Meet in Heaven (Meniti Bianglala) dan First Phone Call From Heaven berbekal pinjaman dari seorang teman.

Tentang For One More Day, setting cerita yang ditampilkan Mitch Albom masih serupa dengan dua buku yang saya baca sebelumnya. Tidak jauh dari pembahasan kematian. Menarik, sebab berbicara tentang mati dapat sekaligus memberikan pelajaran tentang antitesisnya: hidup.

Mitch Albom telah memberikan petunjuk lewat blurb dan prolog, buku ini melibatkan “hantu”. Orang yang sudah meninggal, bagi kepercayaan sebagian orang, jika menampakkan dirinya memang disebut hantu. Seperti itulah kisah For One More Day mengalir.

***

Nama Buku : For One More Day (Satu Hari Bersamamu)
Penulis : Mitch Albom
Pengalih Bahasa : Olivia Gerungan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rating : ⭐⭐⭐

Bagaimana perasaanmu jika kamu telah kehilangan orang yang kau cintai, lalu tiba-tiba hadir kembali? Charley “Chick” Benetto merasakannya. Ia masih ingat dirinya sendiri menimbun tanah berpasir di atas pusara ibunya. Namun, kejadian tak terduga di dini hari itu terjadi juga.

Chick telah memikirkan segala cara untuk bunuh diri. Ia membeli pistol untuk menembak dirinya sendiri di kampung halaman, rumah ibunya. Di perjalanan menuju rumah, ia terlibat kecelakaan dengan truk besar yang disebabkan kelalaian Chick sebab menyetir dalam keadaan di bawah kendali alkohol.

Betapa menyedihkan, ia--yang hendak bunuh diri—nyaris mati, tetapi tidak lewat rencana yang dirancangnya. Ia tak mati, padahal mobilnya terlempar jatuh dari jalan layang atau semacamnya. Berfokus pada rencananya, Chick lalu bergegas menuju kampung halaman, gerbangnya tak jauh dari lokasi kecelakaan.

Untuk memasuki kampung halaman, Chick perlu memanjat bak penampungan air sebagai area perbatasan. Masih sempoyongan akibat alkohol dan setengah sadar pasca kecelakaan, Chick tersandung dari upaya pemanjatannya. Ia nyaris mati untuk kali kedua, tidak sampai mati. Barangkali memang, ia hanya boleh mati lewat strategi yang direncanakannya sejak awal. Menembak diri sendiri, cara lain tak akan berhasil.

Di situlah Chick menemukan sesuatu yang samar sekaligus nyata. Ia berusaha bangkit setelah terjatuh, dibantu oleh gapaian tangan yang sangat dikenalinya. Tangan ibunya, Pauline "Posey" Benetto.

Bagaimana perasaanmu jika kamu telah kehilangan orang yang kau cintai, lalu tiba-tiba hadir kembali? Apa yang akan kau lakukan jika diberi satu hari bersamanya?

***

Ada beberapa pelajaran yang diterima Chick setelah satu hari bersama Posey, bahwa hidup adalah serangkaian pilihan. Sejak kecil, ia dilatih untuk menentukan pilihan. Ayahnya cenderung keras dan mendidik Chick untuk menjadi laki-laki kuat dengan bermain bisbol. Sementara ibunya berharap Chick menjadi laki-laki cerdas dan bersekolah dengan baik.

Setiap kali, Ayah Chick selalu meminta untuk memilih menjadi anak papa atau anak mama, dan tak boleh jadi keduanya. Setiap kali itu pula, Chick selalu memilih menjadi anak papa. Bahkan ketika orang tuanya bercerai, dan Chick tinggal bersama ibu dan adik perempuannya.

Pertemuan kembali dengan ibunya yang telah meninggal mengingatkan dirinya pada saat-saat ibu membelanya dan saat Chick tak membelanya. Ia menyesali hal-hal, termasuk tidak sebandingnya ia membela ibunya seperti ibu membela dirinya.

Yang paling menjadi penyesalan, barangkali, saat ia tak berada di sisi ibunya ketika meninggal, sehari setelah perayaan ulang tahunnya. Saat itu, ia memilih mengikuti perintah ayahnya untuk bertanding bisbol dalam reuni liga. Sesuatu yang ia lakukan dengan berbohong sedang ada kerjaan di kantor.

Ada beberapa pelajaran yang diterima Chick setelah satu hari bersama Posey, bahwa dalam hidup, berbuat salah adalah hal wajar. Sesaat sebelum ia bertemu kembali dengan ibunya, ia sedang dalam upaya bunuh diri. Dan sesaat sebelum upaya bunuh diri, ia merenungi kesalahan-kesalahan yang diperbuat semasa hidup dan menjadi putus asa. Karirnya tak lagi cemerlang, ia bercerai dengan istrinya, anaknya menikah dan ia tak diundang.

Semua orang pernah berbuat salah, itu hal mutlak. Namun tidak semua orang belajar dari kesalahannya. Posey memahami betul hal itu dan untuk itulah ia hadir kembali menemui Chick. “Tidak ada yang tidak bisa diperbaiki,” pesan Posey di malam sesaat sebelum kepergiannya untuk kedua kalinya.

Ada beberapa pelajaran yang diterima Chick setelah satu hari bersama Posey, bahwa hidup harus terus berjalan. Kita mungkin pernah mengalami keterpurukan dan merasa hidup tak adil. Mungkin pula, kita merasa ingin menjalani hidup orang lain, hidup yang dirasa-rasa lebih baik.

Namun, Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk kita. Apa yang menurut kita buruk, padahal bagi Tuhan adalah baik, hanya karena kita tidak tahu. Percayalah!

Sesulit apapun masalah yang didera, pasti selalu ada solusi yang menjadi penawarnya. “Maafkan…  dirimu sendiri. Hiduplah,” kata ibunya mengakhiri pertemuan seharinya.


Sesederhana itu, memaafkan diri sendiri. 

Related Articles

2 komentar:

  1. Saya merindukan berjalan-jalan di rumah satu ini.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saya bisa ingat terus untuk tetap pulang kak 😄

      Hapus