In Campus

Rehat Sejenak

I am on “the man who needs a break for a while after doing something” years old. Ini kebiasaan saya selama mengerjakan skripsi sebenarnya. Saya beristirahat beberapa bulan setelah mengusulkan judul skripsi sebelum sungguh-sungguh mengerjakan proposal penelitian. Lalu ketika proposal saya selesai diujikan, juga kembali mengambil waktu hingga nyaris setahun untuk berisirahat. Bukan waktu sejenak sebenarnya, tapi ada beberapa hal yang saya janji untuk selesaikan lebih dahulu.

Terakhir, ketika rampung menyelesaikan instrumen penelitian, saya menekan tombol pause sebelum melanjutkan proses selanjutnya yang bertepatan dengan mudik berlebaran. Memanfaatkan libur seminggu dengan mengunjungi rumah keluarga dan teman yang bermuara pada liburan ke pantai menjadi waktu rehat paling menyegarkan kepala setelah berpusing ria.

Kali ini, saya kembali merencanakan untuk mengambil jeda, rehat sejenak setelah mengurus izin penelitian di sekolah. Beruntungnya, ada dua pernikahan minggu lalu di tempat yang berdekatan dan merekalah yang membukakan jalan menuju proses rehat. Pertama, salah seorang senior di lembaga kemahasiswaan yang saya geluti. Kedua, teman seprodi yang berasal dari kabupaten yang sama.

Rumah saya sudah cukup dekat dengan lokasi pernikahan senior saya sebab bertetangga kabupaten. Sehingga saya memilih pulang ke rumah dengan pertimbangan bisa sekaligus mendatangi pernikahan teman pada keesokan harinya. Lagipula, tak ada tempat yang lebih tepat disinggahi selain rumah. Bagi perantau, rumah memiliki definisi berbeda daripada sekadar menjadi tempat tinggal. Di sana rindu selalu bermuara.

Matahari sudah tak lagi kelihatan saat tiba di rumah dan tidur-tiduran di kamar beberapa saat setelah pintu rumah ditutup. Saya tidak bisa tidur terlalu cepat kalau malam jadi saya memutuskan meminjam laptop adik dengan berharap ada film bagus yang bisa dinonton atau sekadar mendengarkan lagu. Tapi tidak lama setelahnya, bapak banyak bertanya dari luar. Tidak etis kalau saya menjawab dari dalam kamar sementara bapak di ruang depan. Jadi saya meladeninya dengan keluar kamar. Lagi pula, pertanyaannya memasuki ranah sensitif dan hal-hal lebih parah bisa lebih berpeluang terjadi.

Setelah menerima banyak jawaban yang kurang memuaskan, ibu juga ikutan muncul bertanya meski sedang asyiknya bermain game di ponselnya. Saya masih bisa meladeni bapak kalau urusan ditanya “kapan wisuda”. Tapi, ibu? Ia hampir selalu bermain di ranah perasaan dan sukses membuat saya merasa tidak enak. Sergahan paling menyerangnya tidak jauh dari “Malu sama keluarga yang lain nak, kalau lama sekali kuliahnya” atau “Itu temanmu di sana sekarang sudah dapat kerjaan bagus”. Setelah itu, bibir saya mendadak kelu dengan hati yang terasa diremuk erat. Perih.

Saya baru menyadari kalau pulang di saat “krusial” seperti ini bukan pilihan bijak. Sekaligus, berpikir dua kali kalau harus pulang lebaran di Idul Adha nanti. Itu belum keputusan final sebab betapa saya sangat menghargai momen kumpul bersama yang jarang terjadi di lain waktu.

Lagi pula, persoalan lama wisuda juga bukanlah aib yang perlu disembunyikan. Ini produk manusia yang dibuat-buat dengan tak berdasar, bahwa lama wisuda hanya akan membuat keluarga menanggung malu atau mempengaruhi karir di kemudian hari. Memang siapa yang menciptakan batas antar normal-abnormalnya sesuatu? Ada banyak sekali batas yang dibuat-buat lalu mengkotak-kotakkan sesuatu pada hal yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Tapi, barangkali beginilah hidup manusia, tak pernah bisa lepas dari masalah.

Setelah sidang dengan hakim yang diketuai bapak beranggotakan ibu dan adik (ya, adik bungsu saya juga ikutan bertanya “Kapan pi wisuda ta? Kenapa lama sekali ki”), saya bergegas kembali ke kasur dan memikirkan cara terbaik untuk segera pergi ke acara pernikahan teman.

Keesokan siangnya, saya sudah tiba di rumah mempelai wanita yang bersiap-siap menuju salon make up. Saya mendoakan yang terbaik, semoga menjadi keluarga yang berkah dan saya bisa menyusul. Setidaknya, menyusul gelar sarjananya lebih dahulu.

***

Setelah sidang dengan “kejahatan” tidak secepatnya sarjana, upaya rehat sejenak yang saya rencanakan bisa berjalan dengan lancar. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah memastikan dengan teman-teman yang akan datang ke acara pernikahan. Salah seorang dari mereka bahkan begitu antusias untuk bisa sekaligus berliburan di sela-sela padatnya agenda resepsi. Sebuah kebaikan semesta penuh kejutan, memang itu yang juga saya inginkan.

Menjadi tuan rumah di kampung yang didatangi, saya harus (terlihat) pandai dalam menentukan pilihan tempat-tempat yang perlu dikunjungi. Daerah Bulukumba sebenarnya cukup lengkap untuk beragam objek wisata. Mulai dari pantai, gunung, gua, agrowisata, religi, dan budaya. Tapi memang yang paling identik pastilah pantai dengan pasir putih sehalus tepung. Jadi, kami mengunjungi sebanyak mungkin pantai yang bisa disambangi selama tiga hari di sana.

Di hari pertama, teman yang menyusul dari Makassar baru tiba sore hari, tinggal beberapa jam tersisa sebelum acara “mappaccing1”. Dengan dua mobil yang ditumpangi, kami bergegas menuju Pantai 
Tebing Apparalang. Pada awal masa terkenalnya, kerap disandingkan sebagai Raja Ampat KW.

Spot ini paling saya hapal rutenya setelah Tanjung Bira. Kami baru tiba di pantai tepat beberapa menit sebelum kumandang azan maghrib. Matahari yang sudah bersembunyi dari balik bukit tidak membuat gradasi warna laut menjadi lebih baik. Meski sebenarnya tetap ada gradasi yang indah. Lagi pula, ada beberapa perbaikan dilakukan sejak beberapa waktu belakangan dapat lebih memoles kemolekan pantai ini. Kami hanya sempat mengabadikan beberapa momen dengan berfoto sebelum bergegas kembali ke lokasi pernikahan sebab merasa bersalah kalau harus datang terlambat.

Esoknya, teman kami sah menjadi orang pertama yang mulai menjalin rumah tangga di ICP Matematika 2012. Ini yang membuat teman kami menjadi lebih spesial. Orang-orang lebih sering mengingat yang pertama ketimbang yang muncul belakangan, kan?

Selepas akad, saya bersama tiga teman laki-laki lain mencari kedai kopi. Salah satu dari teman kami merupakan barista di salah satu kedai kopi Makassar dan barangkali ingin meng-explore cita rasa kopi di Kota Panrita Lopi. Ia memesan dua jenis sekaligus, espresso dan cappuccino. Sementara saya dan dua teman lainnya memesan iced green tea latte.

Menandaskan minuman, kami kembali berkumpul dengan teman yang menunggu di rumah menuju Pantai Mandala Ria. Pantai ini memiliki jalur berdekatan dengan Apparalang. Akses dan kondisi jalannya juga nyaris sama. Banyak penurunan, tikungan, dengan beberapa hanya berkerikil.

Pantainya masih belum dikelola begitu baik jadi masih natural. Berdekatan dengan perumahan warga dan kami juga bisa sekaligus menyaksikan sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pesanan kapal pinisi. Hal paling berkesan adalah di tepi pantai, airnya bening dan keanekaragaman hayati benar-benar terbukti di sini. Ada kelomang, teripang, bintang laut, ubur-ubur, dan kepiting putih. Kami juga hanya sebentar di pantai ini sebab harus menghadiri malam resepsi.

Hari ketiga, seharusnya kami juga turut mengikuti agenda “mapparola2”. Namun, acaranya baru mulai siang hari dan kami sudah harus kembali ke Makassar. Salon make up pengantin menjadi tempat kami mengucap salam sampai jumpa dan selamat atas lembaran hari baru bagi kedua mempelai, sekali lagi.

Setelah itu, destinasi populer Bulukumba, Pantai Tanjung Bira sekaligus Pantai Bara menjadi target tujuan kami. Lokasinya memang berada di kawasan yang sama. Kami singgah sebentar di Tanjung Bira kemudian melanjutkan pengembaraan ke Bara. Di sini baru kami bisa berlama-lama menikmati pantai. Menjejakkan kaki di atas pasir putih, menyegarkan kaki dengan air pantai, dan menemukan tempat berfoto yang asyik dari tebing karang. Tidak kalah penting, makan Pop Mie sebelum melekaskan kunjungan pantai sebagai kenangan.  

Failed! LOL... (Foto: Fitrah Amalina)

Tentang kenangan, rehat sejenak ke pantai bukanlah hal paling penting selama tiga hari itu. Jauh lebih baik, saya menghabiskan beberapa dua-puluh-empat-jam bersama orang-orang baik. Kami lama tak berkumpul berlama-lama. Sebelumnya, kami hanya berpapasan di jalan dengan urusan masing-masing atau bisa bertemu di kampus jika sedang beruntung. Kebanyakan dari mereka memang sudah menamatkan studi sarjana.

Selama beberapa hari itu, kami mengulang-ulang cerita tentang hari-hari penuh canda tawa semasa masih bersama-sama menjadi mahasiswa. Seperti pada hari pembukaan Geometry3 2013, kami tampil dengan pertunjukan paduan suara ala-ala. Lagunya masih diingat jelas, Green Day – 21 Guns.

Ada juga beberapa lagu yang selalu memanggil ulang kenangan yang pernah dibuat, seperti David Cook – Always Be My Baby, 3 Doors Down – Here Without You, dan Taylor Swift – Back To December. Beberapa lagu itu pernah diputar berulang-ulang sekaligus dikaraokekan kala sedang liburan akhir pekan bersama di Tanjung Bayang pada masa awal-awal perkuliahan. Sungguh hari-hari yang pantas untuk dirindukan.

Oh ya, saya juga kembali bertemu dengan Trigonometri. Sejauh ini, kami berdamai dengan hal-hal yang dulu pernah ada. Betapa melegakannya bersikap tanpa rasa canggung atau kikuk. Saya mengharapkan itu akan terjadi juga dengan Imajiner. Tanpa memaksa, saya menantikan hari itu akan berkunjung. Mungkin nanti.

***

1 Rangkaian pernikahan adat Bugis dilakukan pada malam sebelum pernikahan.
2 Kunjungan balasan mempelai wanita ke rumah mempelai pria.
3 Genius on Mathematics in Real Application: Even Himpunan Mahasiswa Matematika dengan konten acara berupa lomba matematika tingkat SD/SMP/SMA dan seminar pendidikan.


Related Articles

2 komentar: