In Campus

Janji Tuhan Tak Pernah Ingkar

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” – QS. Alam Nasyrah

Saya bukan pembaca Alquran yang baik, bukan pula muslim yang selalu taat. Kalau bicara dosa, barangkali bisa diadu. Bicara pahala, ah saya malu. Tapi saya tidak sedang hendak membahas agama-agama. Pengetahuan saya masih cetek jauh, meskipun bapak lulusan Tarbiyah IAIN dan bertahun-tahun jadi guru agama. Parah juga nantinya kalau saya sampai bikin fatwa macam pakai pembalut bisa bikin sulit hamil, atau balasan buat orang beriman di surga nanti adalah bisa dengan sepuasnya bebas berpesta… ah, sudahlah.

So, verily, with every difficulty, there is relief. Verily, with every difficulty there is relief. Akhir-akhir ini ketika merasa begitu banyak hal sulit ditemui, pikiran terlalu terbebani, mantra itu selalu dirapal berulang kali. Seolah menemukan kekuatan supranatural di baliknya. Hingga tiba-tiba tersadar kalau Tuhan selalu menitipkan bantuan-Nya melalui tangan-tangan tak terduga. There’s always the light at the end of the tunnel, right?

Setelah kelar dengan urusan perizinan penelitian, which is agak ribet, saya makin merasa bersyukur dengan kerja sama semesta. Ada teman-teman yang senantiasa ada memberi penjelasan perihal yang harus dilakukan. Pegawai di kantor perizinan, balaikota, dan dinas juga sangat membantu untuk mempermulus. Barangkali juga perlu ditulis di “ucapan terima kasih” dalam skripsi nantinya, abang-abang Grab yang setia mengantar kemana-mana.

It was unlucky for you, not being further part of my research. (Foto: whd)

And the day has just begun. Setelah diberi lampu hijau, ibu guru Matematika menawarkan salah satu kelas untuk dijadikan kelas penelitian. Saya menuruti langkah kakinya menuju satu kelas di lantai dua gedung sekolah. Tak perlu waktu lama sejak ibu guru menjelaskan kedatangan saya hingga seluruh siswa di kelas rampung mengisi kuesioner penelitian. Tentu, tidak melupakan fakta bahwa siswa kelas IX masih banyak sulit diatur dalam kelas. Tapi pada akhirnya, selesai juga.

Sebuah kekecewaan muncul pada malam harinya. Saya memang sudah meniatkan untuk segera menganalisis sederhana hasil pengerjaan kuesioner. Yang saya temukan adalah hasil kuesioner tak sesuai harapan. Dari tiga kelompok yang seharusnya ada dari subjek penelitian, seluruh siswa di kelas itu berada di kelompok yang sama.

Tak ingin terlalu lama berdiam dengan hasil nihil, keesokan paginya saya mengirim pesan singkat ke ibu guru untuk memberi izin membagikan kuesioner di kelas lain. “Ada kls lain, jam 10.25-12.25,” dibalas dengan responsif. Hal seperti kemarin terulang kembali, berharap hasilnya tak ikut terulang. Namun yang terjadi kemudian ternyata tak berbeda dari sebelumnya. Dengan alasan serupa, siswa di kelas lain yang ditawarkan kembali tidak sesuai untuk dijadikan subjek penelitian.

Mengatasi kejengahan akibat penelitian yang masih belum berjalan lancar, saya menemui dua teman sarjana di sebuah kedai kopi langganan. Kami sepakat tak memesan kopi di kedai itu. Saya dan seorang teman yang sering meledek kalau kami akan wisuda bersamaan—dia sedang menyusun proposal tesis sekarang—memesan teh hijau. Satunya, memesan thai tea. Berkumpul dengan teman yang sudah sarjana sebenarnya punya sisi positif. Ada sebuah perasaan yang bawaannya juga memotivasi untuk segera sarjana. Kalau sekadar diejek teman karena belum sarjana, malah bikin saya lebih malas untuk memikirkan ejekan itu. Saya hanya akan membalas dengan seringai memangnya-kenapa-kalau-saya-belum-sarjana,-bayar-uang-SPP-juga-bukan-dari-papak-mamak-kau,-kan?.

Pada sebuah percakapan, saya pun mengeluhkan penelitian selama dua hari yang tidak memiliki tanda-tanda bisa berjalan lancar. “Kalau begini terus, saya manipulasi saja datanya deh,” ucap saya lalu diaamiinkan oleh kedua teman. Akal bulus saya mulai berjalan, demi gelar sarjana.

Beberapa hari setelahnya, saya sudah berada di kelas lain untuk bahan penelitian. Ibu guru masih tersenyum dan berulang kali menguatkan, “Begini memang penelitian, dek. Kalau masih belum berhasil, kita coba di kelas yang lain lagi.” Ia tak tahu, dalam hati saya sudah punya rencana lebih besar. Saya trenyuh juga dengan niat tulus ibu guru.

Sepulang dari sekolah, saya butuh waktu beberapa hari untuk memeriksa hasil kuesioner. Seolah mengumpulkan kekuatan sekaligus harapan agar hasilnya bisa sesuai keinginan. And the reality is really real, siswanya memenuhi untuk jadi subjek penelitian. Meskipun sebagian besar siswa berpusat pada satu kelompok, dan dua kelompok lain hanya menyisakan masing-masing satu siswa. But, that’s enough, so much enough.

Saya lalu menemui salah satu dosen pembimbing untuk berkonsultasi tentang arah penelitian. Semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Saya membagikan soal pemecahan masalah dan melakukan wawancara beberapa menit ke ketiga siswa. Karena penelitian saya jenis kualitatif, saya juga perlu melakukan triangulasi. Arahan pembimbing meminta untuk triangulasi waktu, jadi beberapa waktu saya harus kembali ke sekolah untuk menguji kesahihan data. It was easy enough, hingga dua hari lalu saya berhasil menuntaskan rangkaian penelitian yang cukup hectic.

Sebenarnya saya agak menyesali karena sudah berencana melakukan perbuatan jahat demi melancarkan misi ilmiah. Tapi bersyukur juga karena pada perjalanannya, Tuhan memberi jalan yang lebih baik. Betul ya: Perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.

Betapa janji Tuhan tak sama seperti cara manusia berjanji. Beberapa di antara kita tak pernah sungguh-sungguh perihal janji. Lalu (sengaja) lupa menjadi perkara mudah janji untuk tidak tepat dan tetap. Btw, I’m done with research, now all I want is “sea”beach. I need a break… sebelum selanjutnya.


Oh, saya sungguh membenci yang akan saya lakukan kemudian. Welcome to the verbatim moment! 

Related Articles

2 komentar:

  1. Huh, baru juga verbatim begituan. Belum nemu yang wawancaranya sampai 30 menit ya?
    *kibaskan rambut, sombong.

    BalasHapus
  2. Lebih 30 menit lah, dan lebih banyak ngomong variabel x,y,X,y 😏

    BalasHapus