In Campus

Regret Always Comes Too Late

Lirik di bagian awal lagu Fix You dari Coldplay seketika terlintas setelah keluar dari ruang dosen Penasehat Akademik. When you try your best, but you don’t succeed.

How do you feel when you know that everything you do won’t change anything? Setelah rehat sejenak bersama Kugy ke Pulau Lae-lae kemarin, saya berpikir akan bisa dengan tenang menghadapi dunia verbatim dan seabrek perkara yang membuntuti setelahnya. Analisis data, konsultasi ke pembimbing, ujian hasil, hingga yudisium. But, it’s not really that easy. It won’t be.

“Belum terancam ya? Program di semester ini lagi saja,” ujar dosen Penasehat Akademik.

Sebelumnya, saya meminta pertimbangan tentang salah satu mata kuliah yang nilainya kurang menggembirakan. Sementara saya sudah melakukan penelitian dan sebenarnya tinggal perlu fokus untuk urusan skripsi saja.

Kendati batas masa studi memang masih belum terancam, tetap saja konsekuensi memprogramkan ulang mata kuliah membuat saya merasa terancam. I still can’t imagine how many days akan diliputi pertanyaan kapan wisuda dari ibu. Secara matematis, hitungannya akan berjalan satu semester, berarti enam bulan, berarti sekira 180 hari. Tapi waktu selalu berlaku relatif and it’s not gonna be meant by only those days. More than that, literally.

Lalu sekelebat penyesalan bermunculan setelahnya. Saya menyesal karena tidak melakukan banyak hal. Tidak bersungguh-sungguh mengikuti mata kuliah sejak awal. Tidak memprogramkan ulang di semester berikutnya, meskipun saya sedang menjalani KKN, ya kali bisa hoki dapat nilai lebih baik. Tidak ngotot mengikuti semester pendek meskipun hanya seorang diri mendaftar, atau setidaknya mengharap sekadar tugas pengganti 16 pertemuan. Setidaknya saya tidak perlu menjalani satu semester penuh ke depan ini lagi.

But, as always, regret comes too late, right? Saya merutuki diri sejak keluar dari ruangan dosen hingga perjalanan pulang ke redaksi. Tentang sesal, saya memang menyadarinya sebagai sebuah proses pembelajaran. Ada beberapa hal yang perlu disesali dalam hidup. Di kemudian hari, kita belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang lalu. Begitulah penyesalan hari ini berlalu dan akan terus membayangi besok dan seterusnya.

Seperti kemarin, saat rehat sejenak bersama Kugy di Pulau Lae-lae. Tentang rehat sejenak itu, malamnya saya memang berencana untuk pergi ke mana saja asal bisa bahagia. Kugy tiba-tiba mengirim pesan Line hingga bermuara pada agenda ke Lae-lae. It was only about 15 minutes from Kayu Bangkoa Dock, Makassar. Pulau Lae-lae bisa menjadi destinasi untuk lari sejenak dari keruwetan Makassar dan segala isinya. So, there we go.

A moment before Q & A Session (Foto: whd)

Sebelum matahari betul-betul tenggelam, kami menggelar sesi Q & A macam yang sering dilakukan vlogger Youtube. Caranya sederhana, masing-masing dari kami menulis dua pertanyaan untuk kemudian dijawab bersama-sama.

“Kalau dikasih kesempatan untuk memutar waktu, ingin kembali ke waktu kapan? Untuk memperbaiki kesalahankah? Untuk mengulang kenangan?” Saya bertanya.

Kugy tegas menjawab kalau ia tak akan menggunakan kesempatan itu sekali pun. Ia betul-betul paham bahwa yang pernah terjadi akan dibiarkan pernah berjalan begitu adanya. Hal itu cukup menjadi kenangan dan jadi pelajaran.

Sementara saya selalu ingin kembali ke Senin, 21 September 2015. Hari ketika nenek meregang nyawa dan saya tak berada di sisinya. Saya selalu ingin kembali ke hari itu dan menanggalkan serta meninggalkan semua perkara yang pernah membelit. Hanya ada saya dan nenek.

Sehari terakhir bersama Nenek, saya ingin menatap lama-lama, meminta maaf, memeluk, dan membacakan doa-doa. Hingga sekarang, hal yang paling saya sesali dalam hidup adalah tidak berada di sisi nenek saat waktu-waktu terakhirnya.

***

Eh, kembali juga ke Fix You dari Coldplay: When you love someone, but it goes to waste. Could it be worse?

Apa yang membuat saya tidak pernah menyesal adalah pertemuan dengan Imajiner. Saya tidak menyesal datang ke salah satu sisi kampus pada hari itu, tempat kami pertama bertemu. Saya tidak menyesal rutin bertemu dengannya sejak pertemuan perdana sebelumnya. Meskipun pada perjalanannya, hal-hal sulit semakin banyak ditemui, saya tidak menyesal. Meskipun saya mengetahui sejak awal, pada akhirnya, hal-hal sulit itu tak akan mudah pergi. Untuk hal ini, saya selalu ingat penggalan lirik Sudah dari Ferdinand. Tak satupun yang kusesali malahan semua warnai hidup.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar