In Slice of Life

Ulang Tahun dan Buku-buku yang Dihadiahkan

Hollaaa! I’m turning 22 yo. It was exactly on last Saturday, by the way. Such a wonderful age, hmm?

There’s no more thing I wish, but getting mature and feeling greater. I realize, grow a day older means a lot. We’re gonna face more thing to worry about, more time to stress out. It’s not only about family stressful, or our crush, or my thesis. It’s more than that, life is hard and totally complicated. But, what’s the point of life when it’s just the simple way along the day? And the only thing we should do, we just have to seize the day.

In this phase, I’m so grateful ‘cause I’m in between so much people. Good and bad people, angels and demons, indeed. Like other people, it’s good when we meet much more different character person. They make us learn. Every people always bring lessons, people say.

We learn to expect less, we learn to appreciate good people in our circle, and we learn to be stronger when facing people who drive us insane in bad time. We learn to find. All the good and bad thing. We learn more, day by day.

So, right here, stop telling ourself as dumb. We’re precious. Well, sometimes we’ll feel desperate, hopeless, or overwhelmed. But it shouldn’t take too long. When you’re down, get up, keep your chin up, and just cheer up. Keep positive vibes getting around.

***

Tidak ada hadiah yang paling berkesan selain buku. Itu pandangan personal saya, sebab memberi buku berarti memberi hal berharga dalam hidup saya. Kalau orangnya seperti Seno Gumira Ajidarma, tentu lain jadinya, barangkali hadiah senja yang dibungkus dalam surat untuk pacarnya.

Bagi saya, buku tetaplah menjadi hadiah paling personal. Beruntungnya, beberapa tahun terakhir, ada banyak orang baik yang memberikan buku sebagai hadiah. Beberapa di antaranya disertai dengan rangkaian kata. They made me literally more complete.

1.       The Notebook – Nicholas Sparks
Hadiah dari salah seorang kakak perempuan di lembaga kuli tinta. She knows me so well. Buku ini menjadi pintu gerbang saya membaca buku-buku lain Nicholas Sparks. I was just in love with Allie, Noah, twilight, canoe, river, American War, Alzheimer, sad beautiful tragic, and every single thing about this book.
“Baru kusadari waktu itu, bahwa senja hanyalah ilusi semata, karena matahari pasti berada di atas garis cakrawala atau di bawahnya. Dan itu berarti siang dan malam memiliki pertalian yang jarang ada pada hal-hal lainnya; yang satu tak mungkin ada tanpa yang lain, namun mereka tak dapat muncul pada saat yang bersamaan. Aku ingat mempertanyakan, seperti apa rasanya untuk selalu bersama, namun selamanya terpisah?”

2.       Hap! – Andi Gunawan
Kumpulan puisi ini hadiah dari Kugy. She DM-ed me on Instagram, asking what book I need to read the most. Saya memilih kumpulan puisi ini setelah berkenalan singkat di MIWF, Andi Gunawan was invited and launched his book over there. Saya sulit memahami makna puisi, tetapi khas @ndigun adalah sajak ringkas yang mengena telak tanpa diksi yang pelik. Beberapa yang menjadi favorit adalah Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri, Yang Lebih Manis dari Kau, dan Pelajaran yang Tak Pernah Kuselesaikan.
“…Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau tak tertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.
Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam. Percayalah.”

3.       Ayah – Andrea Hirata
Andrea Hirata baru saja merilis buku ini ketika saya me-request “Ayah”. Waktu request hingga waktu tiba di tangan saya terpaut begitu jauh. Waktu lowong yang sulit jadi kendala pertemuan dengan mahasiswa Psikologi yang sekampung ini. I know her since in senior high school, kami ikut pelatihan karya ilmiah remaja saat masih kelas X. We find our interest is similar in literary, and we’re just connected in that way. Bukan cuma waktu penerimaan buku ini yang lama, saya juga harus menumpuk buku ini di rak TBR dalam waktu lebih lama lagi. Saya baru menamatkan buku ini setelah hampir dua tahun dalam tumpukan. And this is my only one of Andrea Hirata I’ve ever read, btw.
“Kebosanan itu kejam, tetapi kesepian lebih biadab daripada kebosanan. Kesepian adalah salah satu penderitaan manusia yang paling pedih.”

4.       The Silkworm – Robert Galbraith
Saya pernah membeli sendiri buku seri kedua The Cuckoo’s Calling ini. Buku itu raib bersamaan dengan insiden pembegalan salah satu teman perempuan. I didn’t blame her for losing my book, I’m just glad she’s doing well with her life. Yang membuat saya kembali bahagia adalah buku ini digantikan oleh salah seorang (mantan) junior di jurusan. She moved to Java and books are cheaper there. Saya meminta ditipkan buku ini, kalau dia kembali ke Makassar. What a kind girl, she gave me the book and not take the money at her birthday party, yang jedanya cuma sehari dari hari ulang tahun saya.
“Lagi pula, mengapa sebenarnya dia membuang-buang waktu untuk kasus Owen Quine? Dia bertanya pada diri sendiri sambil menunduk menghindari empasan hujan yang mengigit. Rasa penasaran, jawabnya dalam hati setelah merenungkannya sejenak, dan barangkali sesuatu yang tidak semudah itu diungkap.”

5.       The Old Man and The Sea – Ernest Hemingway
Buku klasik ini setidaknya masuk dalam list buku yang harus saya baca sebelum mati. Jadi ketika saya diundang salah seorang teman untuk datang ke bazar buku himpunannya, pandangan mata saya tertuju ke buku mungil bersampul kuning gading ini. She handled the book charity bazaar, and she gave me the book as gift. Hubungan pertemanan kami cukup awet meski hanya sempat berkenalan lewat diklat konselor remaja semasa SMA. Setelah diklat, kami pulang ke kabupaten masing-masing, and this girl is the one who still communicate till now.
"Manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan."

6.       Sherlock Holmes: Koleksi Kasus 2 – Arthur Conan Doyle
Saya perlu cukup meyakinkan sepupu perempuan saya hingga akhirnya dihadiahi buku ini. Awalnya, saya berharap diberi koleksi kasus 1 sebab saya belum memilikinya. But, no matter, it’s still precious. Eventually, di hari ulang tahunnya, dia meminta dibelikan jam tangan di Naughty. You know, it’s gonna be a so much awkward moment, kalau saya masuk ke toko pernak-pernik perempuan dengan interior pinky-girly. Beruntung, saya punya teman perempuan yang bisa saya ajak waktu itu, and she’s always been Kugy.

7.       Garis Waktu
Buku lagi-lagi dihadiahkan dari Kugy. I never expected before about this book, but she gave me one. Kami sama-sama bergabung di komunitas yang digagas penulis buku sekaligus musisi ini. Saya senang dengan lagu-lagu Fiersa Besari, tapi tidak semua tulisannya menjadi favorit saya. Saya suka pada beberapa bagian, tetapi selebihnya tidak begitu berkesan. Barangkali sebab saya sudah sering membaca lewat media sosialnya.
“Pelajari sebelum berasumsi. Dengarkan sebelum memaki. Mengerti sebelum menghakimi. Rasakan sebelum menyakiti. Perjuangkan sebelum pergi.”

8.       Memberi Jarak pada Cinta
Tengah malam sebelum keberangkatan ke Jakarta di Februari lalu, saya berkunjung ke rumah mahasiswa Psikologi yang pernah menghadiahkan “Ayah”. Di bawah gelap langit malam, hujan turun cukup deras. Saya mengejar bahan bacaan yang akan menemani waktu kosong selama perjalanan di udara. Teman perempuan saya itu sudah menjanjikan buku Falafu. Saya pertama berkenalan dengan tulisan Falafu lewat blognya dan menemukan kekuatan dari seorang perempuan yang pernah dipatahkan hatinya. It was little bit disappointed when I realized, Memberi Jarak pada Cinta lebih banyak menimbulkan rasa pesimis dan ketakutan. And I was on a plane at the moment, such a misery journey! 
“Manusia, mereka selalu punya alasan untuk membuatmu bersedih dan hilang kepercayaan akan hadirnya kebaikan. Namun, seberapa pun mereka berusaha melakukannya, hidupmu akan tetap baik-baik saja. Selama kamu bersedia mencoba memahami  bahwa;  setiap manusia hanya sedang berusaha bertahan hidup dengan caranya masing-masing—dan dengan kehilangannya sendiri-sendiri.”

9.       The Magic Strings of Frankie Presto – Mitch Albom
Why i love spending afternoon in front of my home. (Foto:whd)

My “boy” friend in college accidentally texted me via Line, “Buku apa mau ko baca?” It’s really random question and I reply one of Mitch Albom that I adore lately. Few days ago, he gave me the book with a letter inside. Saya langsung paham kalau hadiah itu dari salah satu junior di kampus. I have no much idea about who the girl is, teman saya bilang kalau itu dari junior. That’s it.

Kejutan itu sebenarnya bikin saya cukup kagok setelahnya. Sekaligus bikin keder sebab, I can’t imagine what will happen next. But, blame me if being too rude, just don’t expect too much about me. 'Cause I ain't that good.

I know it must be hard for her, ‘cause I feel the same way as well. But, trust me, I just don’t wanna make her feeling’s getting worse. Hopefully, she will be as cheerful as her kind way of writing the letter.

After all, I’m so glad with the blue envelope letter to cheer me up, especially about thesis stuff. Thanks so much for the motivation, now I have one another reason to more serious about finishing my study.

10.   DIY Scrapbook - Kugy
Di antara semua buku, scrapbook dari Kugy selalu paling berkesan. She surprised me sejak pertama memindahtangankan buku handmade-nya. She draw my life in such a pretty book by her hand. It’s just so gorgeous af. Kelak, scrapbook seperti itu yang menginspirasi saya menjadikannya sebagai hadiah ulang tahun imajiner ke-21. I put her Instagram photos, favorite songs and books, and our pretty memories. I’m not as good as Kugy, but at least I try, and I hope imaginary was happy for my DIY.

***

Last but not the least, I’m 22. Everything will be alright, if you keep me next to you. That’s what one of my favorite singer says!

Related Articles

2 komentar:

  1. Oke. Serius. Bikin envy... _ _"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sempat berminat hibahkan "My grandmother asked me to tell you she's sorry" juga Kak. 😆

      Hapus