In Slice of Life

Pertanyaan tentang Masa Depan

“Sekarang kayak tertarik sekali kurasa dengan desain-desain interior. Kalau kerja di media, mau jadi tim kreatif saja.”

“Saya tetap minat di broadcasting, mau jadi penyiar atau news anchor.”

News anchor? Nda lulus kualifikasi mukamu.”

Lewat tengah malam saat itu. Kami bertiga sedang sibuk membicarakan percakapan acak. Semuanya mengalir begitu saja, sebab ada-ada saja yang tak bisa habis diperbincangkan.

Hingga tiba pada trialog di atas. Kami membicarakan tentang masa depan, atau setidaknya sedang membayangkan seperti apa kami di masa depan. Kedua teman saya itu sudah punya arah jelas dengan hidupnya. Minimal mereka sudah benar-benar tahu yang mereka inginkan nanti. Saya yang menimpali di urutan ketiga hanya berusaha mencibir impian teman yang lain, tidak tahu pasti mau mengatakan pekerjaan yang sungguh-sungguh ingin digeluti nanti.

Saya selalu saja iri dengan teman-teman punya perencanaan jelas dengan hidupnya. Tentu saja, pemaknaan iri dengan positif. Iri yang dilandasi rasa kagum dan ingin menuruti jejaknya. Bukan sekadar panas hati dan ingin merebut kepemilikannya.

Ada banyak sekali yang saya senangi. Bagian terburuknya adalah saya jadi mendera dilema di antara beragam pilihan.

Hingga sekarang, saat saya sedang menunggu jadwal ujian hasil untuk skripsi, saya masih belum tahu pasti jawaban atas pertanyaan tentang masa depan. Target saya masih sebatas harus sarjana tahun ini. Seperti yang sudah sering-sering diperingatkan orang tua. Itu saja.

Tentang peringatan orang tua, sebenarnya di beberapa waktu terakhir, mereka-terutama bapak-sedang berusaha meyakinkan saya untuk mendaftar lowongan penerimaan calon pegawai negeri sipil. Profesi yang jadi idaman sebagian besar para orang tua. Apa lagi dasarnya kalau bukan jaminan masa depan dengan gaji bulanan menentu dan pesangon pensiuanan di hari tua?

Saya memikirkan itu, sangat memikirkan, malah. Tapi saya menolak permintaan bapak saat diminta melamar lowongan dengan kualifikasi minimal SMA. Saya hanya berdalih ingin berfokus menyelesaikan studi sarjana dan langsung diaminkan bapak.

Dari sini, saya juga belajar untuk berani mengatakan “tidak” pada sesuatu yang memang tidak ingin atau tidak bisa saya lakukan. Saya hanya merasa tidak ingin begitu banyak terjebak dengan harapan-harapan yang ditumpukan dari orang tua. Jadi, dengan begini saya memulai menentukan masa depan dengan lebih mandiri dan agak leluasa.

Singkatnya, sekarang saya sedang memasuki pekan ketiga menjadi “budak perusahaan”. Bukan korporat sebenarnya, sekadar memoles saja agar lebih berkesan.

Pada awalnya, saya sungguh berpikir untuk memiliki sumber penghasilan sendiri. Mengikuti sejumlah akun penyedia lowongan kerja di beberapa media sosial. Selain itu, membuat akun LinkedIn, yakali ada yang berminat menengok CV saya. Langkah itu harus benar-benar ditempuh, sebab saya tidak harus selalu mengandalkan kiriman uang saku dari orang tua yang sebentar lagi memasuki usia pensiun.

Bak gayung bersambut, meski langkah yang sebelumnya ditempuh jadi tidak terlalu berfaedah, salah seorang senior menawari pekerjaan. Diawali ragu, saya menerima tawaran tersebut.

Meski akrab dengan hal-hal yang dilakukan itu, tetap saja muncul kecemasan-kecemasan: bagaimana kalau sebenarnya bukan ini yang saya inginkan, bagaimana kalau ada yang lebih baik, dan serangkaian bagaimana kalau yang lain. Tetap, saya memikirkan banyak kemungkinan-kemungkinan itu.

Honestly, Saya merasa “muak” di hari-hari awal. Memaksakan diri untuk melakukan dengan ikhlas. Di pekerjaan ini, saya kemudian meminta satu hari libur, Tuesday. Alasannya, karena masih ada kuliah di kampus di hari itu. So, guess how it feels when you gotta work even on the weekend?

My another biggest fear is there will be less time with Imaginary. I know it doesn’t make sense ‘cuz I shouldn’t always stand by her. Anyway, there won’t be any fear or scars about her if all I have is keep faith and fight for her.

Sekarang saya semakin menjadi seperti Sabari rasanya. Betapa menenggelamkan diri dengan setumpuk pekerjaan hanya menjadi pelarian semu semata. Kalau sudah pulang dan menjemput mimpi, kepala masih tetap menjadi kantor paling sibuk di dunia.

Still, here I am. Tentang perasaan saya dengan pekerjaan ini, masih fluktuatif: kadang suka sekali, kadang masih “muak”. Namun, saya semakin berusaha keras dan mulai mencoba untuk mencintai. Prinsip witing tresno jalaran soko kulino yang terjadi di kasus saya dan Imajiner, saya harapkan akan berlaku pula. Rutinitas yang dilakukan selama enam hari dalam sepekan, semoga membiasakan.


Semoga benar, jalan yang saya tempuh ini. Semoga menjadi ketetepan baik dari Tuhan yang Maha Baik.

Related Articles

3 komentar:

  1. Btw saya jadi ingat tulisan yang di-share di timeline facebook beberapa hari yang lalu sama temanku, lupa siapa yang nulis. Kurang lebih intinya begini, kita boleh memimpikan pekerjaan yang benar-benar kita banget, tapi sampai saat itu tiba kita harus tetap melakukan pekerjaan kita yang sekarang dengan bertanggung jawab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. TUL BET KAQ 😂
      Asli harus profesional di dunia kerja.

      Hapus
  2. Dan itu yang pernah saya alami dan itu pula yang sudah dialami oleh para manusia ketika dalam masa peralihan 😁

    BalasHapus